Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Hegemoni dan Imparsialitas


Den Haag 15 November 2013

Justice_Lady_Scales_True_BlindllyImpartial_equal_protected

Ceritanya tengah malam ini saya berdiskusi melalui layar maya dengan seorang sahabat perjuangan di Belanda, Bung Rihan namanya, seorang mahasiswa yang tengah berkuliah di ITB nya Belanda. Diskusi kami berawal dari pertanyaan, ‘gimana abis kelar master rencananya?’ dan kemudian bergulir ke percakapan ‘kayaknya kita perlu ambil Doktor di Amerika deh’. karena kita melihat ada hegemoni akademik yang terpasung kokoh di negeri tersebut.

logika sederhana yang mengawali istilah hegemoni adalah, ketika seorang melakukan penelitian di dalam negeri dan di luar negeri, ada perbedaan pengakuan yang berbeda. mereka yang kebetulan berkuliah di institusi ternama punya kesempatan untuk diakui oleh para pesohor dunia dan mendapatkan pengakuan dengan derajat yang berbeda. lantas, perlukah kita ke Amerika hanya untuk meyakinkan para ahli dunia tentang apa yang terjadi di negara kita baru kita bisa kemudian berkata lainnya?

kadang, kita berpikir, buat apa pengakuan itu? tetapi bila kita refleksikan, pengakuan itu adalah bentuk generik dari ‘power’. dan ‘power’ itu adalah kebutuhan mendasar dari manusia. kenapa manusia butuh ‘power’? agar ia bisa bebas melakukan intervensi terhadap struktur yang berlaku di sosial. mudahnya, seorang Profesor punya daya pengaruh lebih kuat daripada hanya seorang bergelar master dalam dunia akademik.

nah, tentunya itu kembali kita perlu tanya di diri ini, pengakuan siapa sih yang kita cari? manusia kah atau pengakuan yang hakiki dari yang Maha Kuasa? Nabi Musa saja tidak merasa butuh pengakuan Firaun, karena nya ia bisa lebih besar dari Firaun. karena Nabi Musa bersandar pada pemilik pengakuan.

Lantas kenapa ‘barat’ maju? lalu kita bersepakat bahwa kebiasaan Yang Maha Kuasa melaksanakan ketetapanNya itu bersifat imparsial, tidak pandang siapa. Siapa yang bekerja keras ia akan dapat penghargaannya. Itu juga yang terjadi ketika dulu bangsa eropa belajar ke dunia Islam; kala saat itu eropa sedang memiliki syahwat besar dalam membangun peradaban, di sisi lain Islam sedang melemah di kalangan pemeluknya. Maka peradaban memenuhi janjinya, kekuasaan diputar dan digilirkan.

Seorang diplomat dari negeri singa, Kishore Mahbubani, mengatakan bahwa ada tujuh pilar yang membuat negara barat kokoh hingga saat ini, yaitu ekonomi pasar bebas, sains dan teknologi, meritokrasi, pragmatisme, budaya damai, peradilan perundangan, dan pendidikan. di sisi lain, negara-negara mayoritas justru berkelakuan sebaliknya, mereka ekonomi kartel/rente, perhatian rendah ke sains dan teknologi, feodal, tidak konkrit, suka ribut di dalam, hukum tidak tegak, dan pendidikan buruk.

Lantas apakah hegemoni barat tidak ada bobroknya? berhubung ini sistem buatan manusia, tentu ada saja cacatnya. salah satu yang utama adalah kepada dampak demografi yang di awali dari perilaku sexual yang tidak rasional. kembali sejarah akan mengulang janjinya, derita kaum ‘sodom’ bisa saja terjadi lagi. sodom ini adalah kiasan untuk sebuah kaum yang tidak bisa menghargai harkat martabat manusia sesuai ketentuan dari-Nya.

Refleksi bodoh saya mengatakan wajarlah bila Qur’an itu 1/3 isinya adalah tentang sejarah, kita perlu memaknainya bukan sekedar sebagai cerita yang perlu dipetik teladannya. tetapi sebagai panduan untuk membaca rumus dan peta dalam mengelola peradaban dunia; dengan kata kunci Kebiasaan-Nya dalam menetapkan sesuatu bersifat imparsial. Percayalah, pengakuan tertinggi itu adalah Tauhid, disana terletak konsep ‘liberty dan infinite’ yang hakiki.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

One comment on “Hegemoni dan Imparsialitas

  1. hamdanipkttiui
    November 15, 2013

    Hmm, kalau bicara gelar akademik, mungkinkita bisa melihat dan memetik pelajaran dari Buya Hamka. Beliau tidak punya title/ gelar kesarjanaan; apalagi gelar Doktor, Professor, dan Strata 1, Master, atau pun hanya sekedar diploma.

    Tapi, siapa orang Indonesia yang tidak mengakui kehebatanm dan kecerdasasan Buya Hamka melalui berbagai karya dan sumbangsihnya bagi perdaban dunia? Khususnya Ummat Islam di Indonesia.

    Mungkin, satu-satunya orang Indonesia yang tidak pernah kuliah sampai Doktor, bahkan Professor; tapi tetap mendapat penghargaan “Prof. Dr. Hamka” ya hanya beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 15, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,691 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: