Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Kapital atau Manusia ?


Den Haag 21 November 2013

preview (1)

Ceritanya kemarin saya mengisi sarapan pagi saya di sebuah warung kopi bernama Dudok di kisaran pusat kota Den Haag bersama seorang Guru Besar bernama Ben White. Buat mereka yang belajar studi agraria di Indonesia, nama ini sudah tentu tidak asing lagi. Dua jam berdiskusi empat mata dengan beliau dari pembicaraan penelitian terbaru hingga pengalaman hidup dia membuat saya takjub.

Yang jelas, saya sangat tergelitik ketika beliau tidak begitu menyarankan saya kuliah di Oxford karena sistem disana kolot; yang jelas, Ben yang memiliki titel bidang filsafat dan sejarah romawi dari Oxford punya kapasitas untuk bicara hal ini. Selain jebolan Oxford, Ben juga meraih gelar PhD nya di Colombia. Setidaknya dari dua nama kampus ini, kita bisa menilai bagaimana hebatnya beliau, meski beliau selalu menyebut dirinya ‘agak pintar’.

Diskusi dengan beliau selalu dengan bahasa Indonesia dan sebenarnya tujuan saya meminta bertemu beliau adalah untuk membahas state-of-the-art riset studi pasca master. Meski pada akhirnya beliau ‘hanya’ menyarankan saya dua hal ‘lebih banyak baca’ dan ‘perluas pengalaman kamu di lapangan’. Beliau yang sudah sepuh ini saja masih banyak belajar dari temuan-nya di lapangan yang sangat dinamis.

Ada satu tema yang kita bahas cukup lama; yaitu konflik antara mekanisasi teknologi dengan kebutuhan lapangan kerja. Berkat kapitalisme, kini kita bisa menikmati ragam kemudahan dalam segala hal. Alat pertanian yang bisa menggantikan puluhan buruh tani. Internet marketing yang bisa memotong kebutuhan tenaga kerja. Alat hitung uang yang mengurangi pekerja untuk menghitung uang. atau teknologi layanan swalayan mandiri yang mengurangi lapangan kerja.

Ben berpendapat untuk beberap sektor yang potensi padat karya. seharusnya mekanisasi tidak dilakukan. karena secara pengeluaran sebetulnya antara mekanisasi dan membayar upah tenaga kerja itu hampir sama. tetapi nilai tambah dan distribusi kekayaan dengan terus menggunakan pekerja akan lebih besar. Sebagai contoh di bidang pertanian; saat ini alat-alat pertanian telah diturunkan dan bahkan di subsidi pemerintah. memang cara ini sangat menyenangkan untuk petani besar; tetapi tidak untuk petani kecil dan buruh tani. mereka (kembali) menjadi kelompok termarginalkan oleh ‘kejam’ nya kaum pemilik modal yang secara terstruktur bersama pemerintah menekan mereka.

Untuk kasus buruh pabrik. apakah benar, upah buruh yang meningkat akan membuat para perusahaan itu meninggalkan Indonesia? kita juga harus membuka mata bahwa ada politik predator yang merampas hak para buruh pada mata rantai produksi pabrik. Premanisme, pungutan liar, upeti kepada penguasa yang melibatkan preman jalanan, jendral berbintang, hingga pejabat rakus. ini bisa mencapai 25% dari total biaya produksi; dan belum ada yang berani betul-betul mengangkat fakta busuk ini. pahitnya, kasian para buruh yang dituduh tidak bisa hemat dan cuma bisa menuntut upah lebih. mereka (kembali) menjadi kaum tertindas yang harus terbuang secara sistemik.

sebagai seorang yang belajar mendalami tentang ‘value chain’; saya selalu mencoba melihat perspektif bagaimana kelompok marginal ini bisa terlibat dalam mata rantai modern yang terbentuk dari buah berputarnya roda kapitalisme. Alhasil, pengamatan murahan saya mengatakan kalau kelompok marginal ini memang sulit untuk bergabung. Ada 1-2 kasus yang berhasil, tapi mereka cuma menarik untuk sekedar menjadi studi yang digembor-gemborkan di panggung akademik.

Refleksi bodoh saya mengingatkan saya pada bacaan tentang post-modernisme; yaitu ketika manusia bergeser dari rasional-material menjadi spiritual-perasaan-kepuasan. bahwa hidup ini tidak sekedar di hitung dari cost-benefit analysis; tetapi juga dari social responsiveness. Manusia bolehlah berlomba dalam ilmu pengetahuan untuk membuat mekanisme untuk memudahkan hidup mereka. tetapi manusia tidak boleh lupa bahwa people-to-people contact lah yang telah membuat dunia ini masih layak untuk dihuni.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 21, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,691 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: