Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Kota dan Peradaban


Paris, 29 November 2013

eiffel_tower_big

Ceritanya saya beberapa hari lalu ke Paris dengan empat alumni sekolah perencanaan wilayah kota dari kampus gajah ganesha. Seorang Dekan yang juga guru besar tamatan University of Wisconsin at Madison bidang kebijakan perencanaan energi, seorang Dosen berpredikat Doktor transportasi dari Université Paris VIII Vincennes-Saint-Denis, seorang mahasiswa mahasiswa master transportasi dari Universiteit Twente, seorang lagi mahasiswa master di Université Paris I – Sorbonne bidang ekonomi, dan saya sendiri seorang perencana yang lagi belajar politik-ekonomi.

Menariknya berjalan di kota besar dengan para ahli tata kota ini adalah, setiap seluk beluk, keunikan, fenomena, sampai bentuk jalan dibahas dalam konteks perencanaan kota. perjalanan saya di Paris seakan seperti studi tur yang tertunda sembari mengulang mata pelajaran yang pernah saya ambil selama lima tahun di gedung labtek sembilan a.

Banyak hal menarik dari Paris ini; dan bisa jadi pelajaran buat kita tentang bagaimana rupa kota mencerminkan tingkat peradaban sebuah bangsa. karena sejak zaman baheula, ilmu perencanaan kota dan arsitek ini sudah berkembang.

Paris memiliki 19 jejaring jalur kereta bawah tanah yang mereka sebut metropolitan. jalur pertama di bangun sejak 1850 dan mulai beroperasi pada tahun 1900. dengan panjang sejarah ini, wajar, Paris menilai kalau penggunaan kata metropolitan untuk sebuah kota besar itu kurang pas, karena kata metropolitan sendiri menurut mereka adalah sebutan untuk jalur transportasi di sebuah kota. Metropolitan paris tersusun sedemikian apik sehingga seorang bisa identifikasi kode jalur dari warna dan angka; mereka pedulikan warga yang buta warna. untuk memudahkan wisatawan agar tak ragu menunggu di peron tertentu; mereka menggunakan satu jalur hanya untuk satu rute kereta.

Setiap pagi, beberapa titik jalan di Paris mengeluarkan air untuk membersihkan diri dan air itu mengalir masuk ke pori-pori jalan yang tersedia. hebatnya, Paris juga memiliki penampung air sebesar 202.000 m³ di daerah Mountsouris yang telah dibangun sejak tahun 1874.

dalam membangun kota-nya, Paris memiliki kelas dan seni tingkat tinggi. titik landmark yang saling berkait; sebagai contoh; ada garis lurus sepanjang 10 kilometer dari Musée du Louvre ke Grande Arche de la Défense. diantara nya terdapat Arc de Triomphe de l’Étoile, The Avenue des Champs-Élysées, Place du Carrousel , Place de la Concorde, dan Jardin des Tuileries. dan juga garis lurus dari Montparnasse Tower ke Menara Eiffel. Ya itulah Paris, kota yang mendesain dirinya agar menjadi pusat sirkulasi manusia yang ingin menikmati keindahan sebuah kota. saya selalu mengatakan kalau Paris ini berkelas dan elegan.

Namun, dibalik kemahsyuran Paris, saya perlu mengatakan juga kalau kota ini rasis terhadap warga-nya. Paris menerapkan sistem zona dan kecamatan dalam sistem pembagian wilayahnya. penomoran ini menggunakan sistem memutar sehingga sangat mudah; paris sendiri memilih angka 75 sebagai kode kota dan tiga digit selanjutnya adalah kode distrik. kode 001 bermulai di sekitar Musée du Louvre. Hebatnya kode pos ini tidak hanya memudahkan petugas pos untuk pengiriman surat, melainkan juga untuk identifikasi asal dan nasib seseorang. Segregasi sosial di Paris sangat kentara, mereka yang berkulit berwarna tinggal di zona dan distrik tertentu; yang berbeda dengan mereka bekulit putih. bila kita naik metropolitan pun akan terasa semakin ke arah (sebutlah) la Défense, kulit berwarna semakin berkurang di dalam kereta.

menariknya, mereka yang tinggal di distrik tertentu harus sekolah di rayon tersebut; tidak boleh pindah. akibatnya, teman-teman mereka selalu sama dan bila kebetulan distrik itu berisi anak-anak yang kurang mendapat perhatian pendidikan orangtua; maka ia akan seperti itu hingga remaja dan sulit untuk bisa masuk Université. sehingga wajar, mereka yang berkulit berwarna sulit ditemui di kampus ternama di Paris atau Perancis. sederhana nya, nasib seseorang sudah bisa diketahui dengan identifikasi kode pos mereka tinggal.

Perancis dikenal sebagai tempat para pemikir besar; keindahan dan kelas kota nya bisa jadi membuat ide dan inspirasi itu hadir begitu saja ke otak para ilmuwan dan filsuf mereka. Mereka pun sangat bangga degan bahasanya yang elegan, sehingga enggan untuk menuliskan dalam bahasa inggris, misalnya. Akibatnya, pemikiran mereka bisa dikatakan maju satu langkah dari dunia barat lainnya.

Bayangkan di tahun 1960an, Perancis sudah tuntas membahas post-strukturalis dan post-modern dengan lahirnya pemikiran Michel Foucault yang menolak keduanya. Tulisan Foucault sendiri baru mampu diterjemahkan di Amerika pada tahun 1970an. Atau contoh lainnya tentang konsep demokrasi yang di lahirkan oleh Montesquieu; doktrin positivisme dalam ilmu sosiologi yang di cetuskan Auguste Comte. You name it!

wajar, Panjangnya sejarah dan dalamnya pemikiran yang bergejolak di Paris, membuat warga perancis mengatakan ‘Belanda dan Jerman adalah pekerja keras, Spanyol dan Itali adalah pemalas, dan Perancis adalah penikmat dunia’.

Refleksi bodoh saya mengatakan kota bukanlah sekedar bangunan dan jalan, tetapi kota adalah kehidupan dan cerminan bangsa. Ia tumbuh dan berkembang mengikuti kelas dari warga nya. Bila kota dibangun dengan pemikiran besar dan visi panjang, maka kota tersebut akan berkembang bermanfaat bagi warga dan pendatangnya. merencanakan kota adalah merencanakan masa depan; ia perlu berpikir setidaknya 50-100 tahun mendatang; karena nya soerang perencana tidak cukup hanya menjadi ahli rancang, melainkan juga perlu memahami filosofi kota dan pembangunan peradaban.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

One comment on “Kota dan Peradaban

  1. lazione budy
    December 4, 2013

    Percayakan pada Jokowi, 50 tahun ke depan Jakarta akan jadi fenomena, mudah2an positif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 2, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,251 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: