Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Leiden is Lijden (memimpin itu menderita)


Leiden, 14 Desember 2013

hidup-melarat-h-agus-salim-tak-pernah-berpikir-soal-gaji

Ceritanya saya baru saja pulang dari bermalam di kota Leiden. Bersama kawan-kawan disana, saya menghabiskan malam hingga pagi saya untuk diskusi tentang beragam tema terkait Indonesia. dari hukum, sosial, sejarah, korupsi, politik, dan tentunya ditutup dengan pembahasan soal cinta hehe.

diskusi menarik karena kami berasal dari bidang studi yang berbeda, sejarah kolonialisme, hukum udara dan angkasa, hukum dagang internasional, studi arsip, dan saya sendiri belajar politik ekonomi. ditemani nasi hangat, tempe goreng, rawon, dan sayur jamur-petai cina kita mencoba memulai diskusi.

selalu menarik dan akan saya rindukan suasana seperti ini, ketika beberapa pemuda mencoba menuangkan isi pikirannya, mengekspresikan gagasannya, dan menyampaikan kegelisasahan sosialnya. dalam sebuah forum diskusi informal dan sejajar. di sana, tidak ada yang lebih pintar. kita semua sama – sama pelajar. kita mencoba saling mendengarkan, saling menguatkan argumen hingga akhirnya kita punya sebuah lensa berpikir yang serupa.

saya kira, apa yang kami lakukan tadi malam juga kerap dilakukan oleh pendahulu kita di era sebelum kemerdekaan. mereka juga berkumpul dan terus mengasah nalar logika mereka hingga mencapai sebuah kesepahaman tentang bagaimana cara menggapai kemerdekaan. itulah mengapa, kami kadang berkelakar, bisa jadi diskusi kita malam ini akan menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia. dan itu bukanlah hal yang tidak mungkin.

apa yang saya dapatkan dengan diskusi-diskusi bebas semacam ini? saya yakin penuh kalau usaha dan upaya membuat Indonesia lebih baik selalu dimulai dari pergolakan intelektual kawula muda. mereka yang resah dengan keadaan negeri tercinta mencoba mengkapitaliasi intelegensia mereka dan itu dilakukan secara terus-menerus. saya percaya adanya efek bola salju perkembangan pemikiran.

bijak itu harus dimulai sejak dalam pikiran, begitulah kata Pramodya Ananta Toer. bukankah dengan kita terbiasa mem-friksi kan pemikiran kita maka jiwa ini akan semakin matang dalam mengolah perbedaan pemikiran. pada akhirnya, sebuah bangsa akan menjadi terdepan ketika ia mampu memformulasikan ragam pikiran, dari kanan ke kiri, serupa hingga bertentangan. naif saya kira, bila kita berpikir bahwa satu kelompok bisa membuat perubahan. mungkin ia lupa pola sejarah yang selalu mengajarkan pentingnya kerjasama.

ah memang bila pemuda berkumpul, waktu itu terasa cepat. malam yang semakin membeku dan larut pun membuat satu per satu kawan kami kembali ke perapian masing-masing.

tema terakhir adalah cinta, saya kira ini tema ini tak bisa terlepas dari kawula muda. yang membedakan adalah bagaimana kita melihat konteks cinta ini. apakah dengan cinta kita jadi semakin memperbaiki diri. ataukah dengan cinta kita jadi semakin kehilangan arah. kembali, bijak itu harus dimulai sejak dalam pikiran, maka posisikanlah cinta sebagai energi agar kamu semakin bermanfaat.

sebagai anak muda yang konon adalah cadangan masa depan bangsa, ia diharapkan mampu menjauh dari zona nyaman dan amanya. ia perlu mau dan berani melangkah dua – tiga langkah dari anak muda dari negara lain. saya kira, ini konsekuensi logis dari kita sebagai warga Indonesia, negara kita memang belum semapan negara maju, sehingga sudi kiranya kita berkorban dengan berlari dan berjuang lebih berat ketimbang anak muda di negara lain.

Refleksi bodoh saya mengingatkan saya pada perkataan Haji Agus Salim yaitu leiden is lijden (memimpin itu menderita). bukankah penderitaan itu membuat jiwa semakin peka, dan bukankah kepemimpinan itu bermakna mengorbankan kemapanan hidup untuk keutuhan bersama.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

3 comments on “Leiden is Lijden (memimpin itu menderita)

  1. mitasasmita
    December 16, 2013

    Reblogged this on Coretan Sasmita.

  2. megaelectra
    February 16, 2014

    Reblogged this on My lovely life.

  3. Ruli Ismawati
    April 7, 2014

    Reblogged this on Ruli Ismawati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 14, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,216,712 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: