Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Kemana Kampanye Neoliberal merapat?


privatiseeverything

Setiap transisi demokrasi terjadi di sebuah negara, khususnya negara yang memiliki potensi ekonomi besar, pertanyaan yang menarik untuk di diskusikan adalah, kemanakah arah para pengusung neoliberal akan merapat?

sepaham saya, sebagai salah satu upaya agar neoliberal bisa selalu terjaga nafasnya, mereka melakukan pendekatan melalui pendekatan kepada para penguasa. Neoliberal memang akan semakin berkembang sehat bila ia mampu berkolaborasi dengan pemimpin sebuah negara atau daerah.

Bila merujuk pada konsep ‘governance triangle’ nya Abbot dan Snidal yang mengatakan bahwa ada tiga unsur pembentuk tata pemerintahan, yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat. Maka strategi neoliberal adalah mengkawinkan antara swasta dengan pemerintah; yang secara langsung atau tidak akan ‘berhadapan’ dengan masyarakat.

Dengan nama nama calon Presiden yang ada, siapakah yang paling berpeluang mendapatkan kepercayaan neoliberal dan kemudian mendapatkan akses dari dunia internasional?

Saya sendiri agak sulit sebenarnya menerka kedekatan ideologis dan politik internasional dari para calon yang ada. bisa jadi karena ‘kedekatan’ dengan pihak luar kerap di identikan dengan ‘terjajah’.

Tapi coba kita bedah perlahan, Joko, Bowo, Ical, Demokrat, PKB, dan PKS. Daftar ini saya coba buat berdasar pertimbangan kemungkinan pasangan Presiden dan Wakil Presiden. Tiga nama pertama adalah nama yang kuat mencalonkan diri, dan tiga nama partai adalah partai yang memungkinkan juga memajukan Presiden dan Wakil Presiden.

Joko, saya sendiri lihat sosok ini masih belum banyak tersentuh neoliberal secara langsung. setidaknya itu yang terlihat di kasat mata. Meski demikian, saya kira, neoliberal yang pragmatis sangat mungkin mendekati Joko yang tampak bukan seorang ideolog. Ia akan sangat mudah ‘dikendalikan’ dengan tawaran menggiurkan, contoh mudahnya saja ketika Joko begitu mudahnya lalai terhadap kerjasama pengadaan bus trans jakarta dari Tiongkok. Bila melihat partai-nya, PDIP ini sebenarnya juga agak membingungkan. Ada sosok Budiman yang memperjuangkan ideologi kiri dengan cara ‘cute’ tapi ada pengalaman mengatakan PDIP begitu mudah menjual aset negara kepada pasar dunia.

Bowo, sosok ini saya kira sangat sadar bahwa dukungan pengusung neoliberal sangat berharga untuk menjamin kepemimpinannya. Ia tau pernah punya khilaf masa lalu yang membuat dunia internasional menyoroti-nya, sehingga ‘restu’ barat sangat penting untuk memastikan dirinya bisa menjalani amanah hingga tuntas bila terpilih. Sadar dirinya punya keterbatasan, Bowo mengutus Sang Adik, Hashim untuk aktif melobi para pemodal neoliberal. Konon, Bowo sudah punya kantor khusus tak jauh dari gedung putih.

Ical, dunia luar melihat Ical sebagai sosok pengusaha dan tentu sangat cocok di dekati dengan cara pengusaha. Bakrie yang baru saja membeli Path kini tengah berseteru dengan keluarga Rothchild, salah satu pemodal penting neoliberal. Saya memahami, bahwa campur aduk antara kepentingan bisnis dengan administrasi pemerintah akan berdampak pada saling sikut dalam kompetisi meraih kekuasaan. berseteru dengan keluarga Rothchild bukanlah pilihan yang menyenangkan di masa masa kampanye seperti ini.

Demokrat, beberapa nama peserta konvensi demokrat adalah mereka yang memiliki akses ke lobi Internasional. Meski perlu di catat juga, kalau Pramono Edhie Wibowo sama seperti Bowo yang kesulitan mendapatkan visa amerika. Demokrat sempat menikmati kedekatan dengan neoliberal, kemenangan pemilu dan negosiasi kontrak karya pertambangan menjadi salah satu hasil kesepakatan. Namun, neoliberal pragmatis sadar, Demokrat sudah usai, mereka harus mencari pelabuhan lain. Kecuali, ada tokoh peserta konvensi yang mampu menjanjikan sesuatu yang menggiurkan.

PKB, sebagai partai dengan nafas Islam paling beranjak raihan suara-nya belakangan ini. PKB tampak belum tersentuh oleh para neoliberal. PKB sendiri tidak jelas platform pembangunannya, sehingga sulit bagi saya untuk melihat peluang PKB berdekatan dengan pengusung neolibera.

PKS, partai ini sadar betul tentunya, bila ada kesempatan memegang kekuasaan di negeri ini. Mereka tentu akan berhadapan dengan kampanye neoliberal yang sangat tidak menyukai ideologi dari PKS ini. Mengutip Snouck Hurgronje, ‘Musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik’. Bila kita sepakat bahwa kampanye neoliberal adalah bentuk terbaru dari kolonialisme. Maka konflik akan sangat mungkin terjadi; pertanyaannya, strategi apa yang akan digunakan untuk konteks Indonesia?

Saya kira, mengamati arah pengusung kampanye neoliberal merapat akan memberikan gambaran kepada kita tentang hasil pemilu dan juga dampak dari kepemimpinan Presiden – Wakil Presiden yang terpilih.

#AnalisaEkonomiPolitik

Advertisements

2 comments on “Kemana Kampanye Neoliberal merapat?

  1. Umi
    March 28, 2014

    ijin share kak,,

  2. Ruli Ismawati
    April 7, 2014

    Reblogged this on Ruli Ismawati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 26, 2014 by in Sosial dan Politik.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,227,333 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: