Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Membedah Gagasan Calon Presiden Indonesia


Untitled

Belakangan, saya mencoba membaca dan mulai membandingkan gagasan-gagasan yang diusung oleh para calon Presiden yang bermunculan. Dari sekian nama yang berseliweran, saya baru menemukan gagasan dari Prabowo, Ical, Anis Matta, dan Anies Baswedan. Calon lain tampak belum mengeluarkan gagasan nya, kemungkinan mereka masih menyimpan ide segar untuk Indonesia nya pasca pemilu legislatif atau memang mereka tidak memikirkan gagasan.

Kita coba kupas satu per satu dari 4 nama yang telah saya sebutkan.

Prabowo, dan Partai Gerindra mengusung ‘6 Program Transformasi Aksi Bangsa’. Enam program ini meliputi isu ekonomi, pangan, energi, infrastruktur, birokrasi, dan pembangunan manusia. Menariknya gagasan yang di bawa oleh Prabowo adalah, dia selalu mengupayakan adanya kuantifikasi (angka) dalam program turunannya. Seperti peningkatan pendapatan per kapita hingga USD 3500, membangun 3000 km jalan raya dan kereta api dan mencetak 2 juta Ha lahan pertanian baru. Buat saya, cara penyajian gagasan semacam ini sangatlah baik, karena memberikan kesempatan bagi calon pemilih untuk bisa mengkritisi gagasan program yang ada dan merefleksikan dengan kebutuhan dia terhadap pembangunan Indonesia. belakangan, Prabowo bahkan mulai mengeluarkan angka-angka rupiah yang diperlukan untuk menjalankan programnya. Terakhir saya membaca rencana infrastruktur beliau yang membutuhkan 505 Triliun.

Ical, dan Partai Golkar mengusung tema ‘Visi Indonesia 2045: Negara Kesejahteraan’. Berbeda dengan Prabowo, Ical memulai gagasan dengan target/indikator pembangunan Indonesia yang di bagi menjadi 3 fase. setiap fase ada pencapaian yang ingin dicapai, yang menurut saya masih terfokus pada indikator ekonomi, seperti rasio gini, pertumbuhan, dan pendapatan per kapita. Ada beberapa indikator juga terkait isu sosial seperti tingkat kemiskinan dan pengangguran; namun saya tidak melihat standar apa yang digunakan dalam menentukan penilaian indikator ini. Selanjutnya, Ical mencoba menurunkan target pencapaian ini menjadi strategi-strategi. Bagus, dan melingkupi semua aspek pembangunan, namun sayangnya, diskusi yang dimunculkan masihlah bersifat normatif. kalimat-kalimat ala orde baru seperti ‘mengoptimalkan’, ‘memajukan’, ‘mensinergikan’, dan ‘mempercepat’ masih menjadi pilihan kata yang digunakan. Alhasil, saya melihat strategi Ical dengan pengusungan ‘blue print’ ini merupakan buah pemikiran yang baik dan patut di tiru, namun dalam tatanan implementasi, ini masih sulit untuk di visualisasikan. Strategi pembuatan ‘cetak biru’ yang bersifat makro abstrak ini cenderung tidak cocok untuk pemilih generasi baru demokrasi.

Anis Matta, dengan buku ‘gelombang ketiga Indonesia’ mencoba memberikan gambaran atau peta tentang situasi yang terjadi di Indonesia saat ini. Melalui bukunya, Anis Matta mencoba berkomunikasi dengan generasi pemilih baru demokrasi, bahwa dirinya mengerti betul kebutuhan dari generasi ‘posmo’ ini. Anis memberikan sebuah cara pandang baru dalam pembangunan Indonesia, yaitu dengan memahami manusia Indonesia itu sendiri. Dengan memahami karakter manusia Indonesia, seorang pemimpin akan mengetahui cara terbaik dalam membangun manusia dan bangsa Indonesia. Itu mengapa, Anis, dalam bukunya mengatakan bahwa peran pemimpin (dalam konteks ini Presiden) adalah membentuk pribadi manusia Indonesia. Apakah manusia Indonesia masihlah seperti yang koentjoroningrat karakterkan di tahun 1976 ataukah sudah ada perubahan? Anis meyakini telah terjadi perubahan, sehingga menjadi sangat penting untuk pemimpin Indonesia menemukan arah dan gaya kepemimpinan baru di republik ini. Anis menekankan pentingnya titik equilibrium antara pembangunan ekonomi dan kebebasan politik. Di salah satu bagian buku, Anis juga mengutarakan urgensi bagi pemimpin Indonesia dalam memanfaatkan semua fitur demokrasi untuk menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Anies Baswedan dengan jargon ‘menuntaskan janji kemerdekaan’ membawa tema ‘Indonesia 1945’; 1 Semangat, 9 Pekerjaan, 4 Janji Kemerdekaan, dan 5 Tahun bekerja. Anies menurut saya masuk dengan gagasan yang disajikan dengan cara ‘posmo’. Sangat anak muda, mudah dipahami, dan menggunakan kata kata persuasif yang membuat orang mau bekerjasama dengannya. 9 pekerjaan yang di angkat oleh Anies adalah 9 aspek pembangunan yang ia pilih dan beri label; seperti ‘Indonesia Erat, Indonesia Sejahtera, dan Indonesia Gotong Royong’. Setiap tema pembangunan ini memiliki sasaran/target masing-masing yang diturunkan menjadi strategi pencapaian tersendiri. Namun, saya melihat, Anies masih menggunakan kalimat-kalimat kualitatif (gaya sastrawan) ketimbang memunculkan angka-angka pencapaian. Selain itu, Anies masih banyak mengupas kondisi eksisting Indonesia dan menjadikan itu sebagai landasan dalam mendefinisikan tantangan Indonesia. Menariknya, saya melihat, Anies menaruh titik tekan (setidaknya saya nilai dari sejauh mana elaborasi strategi) pada dua bidang, yaitu ekonomi dan pendidikan. Saya kira ini sesuai dengan latar belakang seorang Anies yang peduli kualitas sumber daya manusia dan tantangan meningkatkan level ekonomi Indonesia. Sebagai seorang alumnus luar negeri, Anies terlihat dari cara penyajiannya yang gemar membandingkan kondisi Indonesia dengan kondisi negara lain. Menurut saya, yang perlu dilakukan Anies selanjutnya adalah bekerjasama dengan para pakar sesama PhD lainnya untuk menurunkan gagasan besar dia menjadi narasi narasi kecil yang konkrit dan mampu di implementasikan.

Demikian komparasi saya terhadap 4 gagasan yang sudah ada. Buat saya, Indonesia perlu memaksa dirinya untuk terbiasa mengkomparasi gagasan yang di bawa oleh calon Presiden atau Partai Politik. dengan membandingkan gagasan yang ada, kita menjadi mengetahui bagaimana gambaran Indonesia kedepan, memberikan kesempatan kepada kita untuk mengkritisi rencana kebijakan yang ada bila di nilai tidak valid. dan yang paling penting, kita memilih dengan landasan rasional, yaitu membandingkan gagasan.

#analisisekonomipolitik

Advertisements

14 comments on “Membedah Gagasan Calon Presiden Indonesia

  1. fasyaulia
    April 1, 2014

    Sama sekali gak tertarik sama Prabowo, apalagi kalau baca info mengenai kasus-kasus dia. Hehehe.

  2. surya_adhi
    April 2, 2014

    bang ada tulisan yang membandingkan antara jokowi, bang rhoma, n mahfud md ga?

  3. Melly Khoerunnisa
    April 2, 2014

    Penulis mencantumkan opini untuk Prabowo, Ical dan Anies Baswedan. Seperti: (Buat saya, cara penyajian gagasan semacam ini sangatlah baik, karena memberikan kesempatan bagi calon pemilih untuk bisa mengkritisi gagasan program yang ada dan merefleksikan dengan kebutuhan dia terhadap pembangunan Indonesia), (saya melihat strategi Ical dengan pengusungan ‘blue print’ ini merupakan buah pemikiran yang baik dan patut di tiru, namun dalam tatanan implementasi, ini masih sulit untuk di visualisasikan. Strategi pembuatan ‘cetak biru’ yang bersifat makro abstrak ini cenderung tidak cocok untuk pemilih generasi baru demokrasi), dan (Saya kira ini sesuai dengan latar belakang seorang Anies yang peduli kualitas sumber daya manusia dan tantangan meningkatkan level ekonomi Indonesia. Sebagai seorang alumnus luar negeri, Anies terlihat dari cara penyajiannya yang gemar membandingkan kondisi Indonesia dengan kondisi negara lain. Menurut saya, yang perlu dilakukan Anies selanjutnya adalah bekerjasama dengan para pakar sesama PhD lainnya untuk menurunkan gagasan besar dia menjadi narasi narasi kecil yang konkrit dan mampu di implementasikan). sangat bagus, anda mencantumkan pendapat anda…, tapi, pertanyaan saya adalah kenapa anda tidak mencantukan pendapat untuk gagasan Anis Matta? saya kira tulisan ini akan menjadi sangat bagus lagi seandainya anda mencantumkan lengkap ke-empat gagasan yang tertulis. agar tidak timbul pemikiran negatif, menyudutkan salah satu pihak, atau hal lain yang mengelabuhi pikiran pembaca.

  4. Puskomda SuraYa
    April 2, 2014

    bang, untuk analisa pak jokowi kok belum ada? padahal udah sangat booming juga di media maya dengan cybertroops nya.
    syukran

  5. partnerinvain
    April 2, 2014

    Presiden saya sudah punya pilihan, wakil rakyat belum nih, orangnya sesuai pilihan partainya ngga, partainya sesuai pilihan orangnya ngga

  6. anggiawan23
    April 3, 2014

    Analisiss yang menarik Uda, izin rebblog..bsa menjadi salah satu referensi bagi para pemilih dalam menentukan pemimpin Indonesia 5 tahun kedepan..

  7. anggiawan23
    April 3, 2014

    Reblogged this on M Zia Anggiawan.

  8. satria
    April 4, 2014

    mungkin ditambahkan informasi tentang biografi calon presiden, untuk menambah informasi pembaca agar lebih mengenal calon presiden kita

    • nurhidayanto09
      April 22, 2014

      iya … setuju tahu sampai akar”nya, terutama prestasinya akan lebih baik, bukan aibnya…track record hingga latar belakang pendidikan, organisasi, lingkungannya… tapi mungkin saat capres di pilpres hehe

  9. Adhitya Fernando
    April 5, 2014

    Izin rebblog ke adhityafernando.com, bang.

  10. Pingback: Membedah gagasan calon presiden Indonesia | Adhitya Fernando Adhitya Fernando

  11. Larasati Dena
    April 6, 2014

    mohon izin share, ya. Terima kasih.

  12. Yukina Hawmie
    April 6, 2014

    Reblogged this on sekurito and commented:
    Kalau dipikir-pikir, walau selama ini saya selalu beranggapan mengikuti dunia politik, rupanya saya hanya mengikuti permukaannya saja. Pilpres tahun ini sayang dilewatkan, calon-calonnya menarik 🙂

  13. Ruli Ismawati
    April 7, 2014

    Reblogged this on Ruli Ismawati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 1, 2014 by in Sosial dan Politik.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,124 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: