Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Pemilu 2014 : Hasil yang melegakan banyak pihak


foto_pemilu-2014_1

mengamati hasil quick count pemilu 2014, saya melihat hasil ini merupakan hasil yang melegakan untuk banyak pihak -bila saya tidak boleh sebut semua pihak-. Bagaimana tidak, hasil pemilu 2014 mengindikasikan cukup meratanya kekuatan partai di Indonesia dan menyisakan 10 partai yang -setidaknya- akan bertarung lagi di 2019.

Ada dua partai yang saya lihat ‘menang besar’ di pemilu 2014, yaitu PKB dan Gerindra, dua partai ini mengalami peningkatan drastis, masing-masing 4.22% dan 7.31%. hasil ini menempatkan mereka sebagai pemain papan menengah dan atas dalam percaturan politik Indonesia. Dua partai ini layak berbangga diri, usaha yang mereka lakukan secara konsisten sejak 2009 berakhir manis. PKB yang berhasil melewati masa konflik internal sejak kekisruhan muhaiman dan keluarga gus dur terbukti mampu mengoptimalkan tiga capres yang di gadang-gadang oleh mereka. Saya perlu berikan catatan bahwa Rhoma Irama adalah man of the match dalam pemilu 2014. Rhoma Effect tampak berdampak sangat besar dalam meningkatkan popularity vote-nya PKB. Setidaknya, kalau kita lihat wajah muhaimin kemarin, dia adalah ketua parpol yang sumringah dengan hasil ini.

Gerindra juga terbukti berhasil mengoptimalkan sumber daya mereka yang tidak terbatas untuk melancarkan serangan darat maupun udara. di desa-desa mereka bergerak, di social media mereka juga cukup menguasai. saya beberapa kali mengamati kuliah twitter akun resmi gerindra, mereka dengan baik melancarkan serial tweet berisikan gagasan gerindra, 6 program aksi gerindra ini tampak cukup efektif memberikan pencerdasan kepada publik bagaimana seharusnya kampanye politik di lakukan (mengutip perkataan Fadli Zon).

Ada dua partai yang merasa ‘selamat’ yaitu PKS dan Nasdem. dua partai ini setidaknya bisa bernafas lega terhadap goncangan spekulasi yang menerkam beberapa bulan terakhir.

PKS, buat saya, hasil PKS membuktikan partai ini merupakan satu-satunya partai kader yang bersisa. Suara PKS yang juga cenderung tetap mengkonfirmasi perspektif ini. Ditambah dengan kemungkinan bahwa kursi PKS di DPR akan cenderung sama, yaitu di kisaran 57 kursi dengan tetap mempertahankan kursi di basis-basis utama. PKS, saya kira, telah berhasil melepaskan diri dari belenggu kasus Luthfi Hasan tahun lalu. Pengamatan di dunia maya juga menunjukkan bahwa gelombang pencarian Luthfi di search engine naik dratis hanya di 1-2 bulan sejak kasus itu bergulir saja. sisanya, semua kembali normal. Acungan jempol juga patut di berikan kepada Anis Matta yang telah sukses mengkonsolidasikan internal kader PKS dengan baik dan memberikan wajah segar bagi PKS di depan publik.

Nasdem juga merupakan partai yang lega pasca pileg ini, mereka akan tetap aman hingga 2019 dan punya kesempatan untuk membangun basis massa dan ketokohan lagi. Apresiasi diberikan kepada Surya Paloh yang berhasil mengoptimalkan kekuatan media-nya dan daya juang para kader/caleg di lapangan. Nasdem ini mendapatkan suara yang banyak di keikutsertaannya di pemilu tanpa tokoh yang mentereng seperti demokrat di 2004. artinya, mereka masih punya peluang untuk menambah suara di pilkada dan juga pemilu selanjutnya.

Terakhir, dibalik hasil ‘lega’ yang di alami oleh kebanyakan partai, saya kira, ada dua partai yang kecewa terhadap hasil pileg ini. mereka adalah demokrat dan PDIP.

Demokrat jelas mengalami terjun bebas dibandingkan pemilu 2009. Setelah rentetan kasus korupsi di alami oleh para idola demokrat, partai ini bisa dikatakan gagal melakukan konsolidasi internal. friksi antara kelompok loyalis anas dan penggemar SBY tampak belum tuntas terselesaikan. Ketua Umum yang sibuk dengan urusan negara, ketua harian yang tidak gesit manuver ke daerah-daerah, dan sekjen yang masih terlalu muda juga menjadi alasan kegagalan demokrat untuk kembali meyakinkan publik.

PDIP, saya kira partai ini mengalami kekecewaa juga, bukan karena suaranya menurun, tetapi karena kenaikan suaranya tidak setinggi yang diharapkan, Di dalam tubuh PDIP tampak masih ada kelompok yang pro dan kontra pencalonan Jokowi yang menyebabkan Jokowow Effect tidak berkerja secara optimal. Kurang seriusnya PDIP dalam mengusung Jokowi juga terlihat dari iklan televisi PDIP yang tidak langsung menjadikan Jokowi sebagai ‘wajah’ PDIP. Saya sendiri, melihat pesimistis di partai ini setelah mengamati perbedaan komentar diantara petinggi partai ini pasca hasil quick count. Belum juga berkuasa sudah ribut di dalam. tapi, semoga bu megawati sebagai pemersatu mampu mengatasi segala friksi sekecil apapun di PDIP.

partai lainnya? mereka tampak sudah puas dengan apa yang didapat.

Selamat kepada rakyat Indonesia, kita telah tuntas melewati babak satu pesta demokrasi.

Advertisements

5 comments on “Pemilu 2014 : Hasil yang melegakan banyak pihak

  1. rumania alfaruq
    April 11, 2014

    Bang Rhoma lebih ng-Effect daripada Jokowi Effect. Jadi ingat ketika di Mata Najwa, eyang Habibi bilang tidak kenal Bang Rhoma. Hihihi
    Eyang eyang…

  2. azaleav
    April 11, 2014

    Reblogged this on Pojok Biru and commented:
    Baiklah, meskipun saya tidak jeli-jeli amat mengamati perkembangan partai politik, tapi tulisan seperti ini wajib diapresiasi. Cara pandangnya netral dan logis. Jadi, membuat kita berpikir bukan terprovokasi. Sudah sangat langka sekarang ini. Kebanyakan tulisan judulnya ‘Inilah Rahasia Besar Partai X’ atau ‘Bayangkan Jika Presiden Kita dari Partai Y’ yang hanya membuat banyak orang ikut share terus ikut bikin maki-makian.

    Saya sendiri cukup geregetan melihat banyak partai yang saling menjatuhkan. Kejam, pula. Udah gitu terang-terangan. Saya nggak nyebut merek, hampir semuanya begitu. Walaupun dekat dengan lingkungan yang identik dengan partai tertentu, kita selalu punya logika untuk berpikir secara lebih bebas dan terbuka. Setelah itu mari tentukan. Ya sudah, pesta demokrasi tinggal menunggu hasil resmi. Mari kita berdoa untuk Indonesia tersayang.

    However, Himsa. You can’t make life as ideal as you think. Allah sudah membuatnya dengan sangat seimbang. We just don’t know His Plan. But we always have choice, to learn from the past or just laugh or cry.

    -mbuh ini pengantar reblog dari Himsa yang nggak jelas, saya cuma mau share tulisan menarik dari Uda Yusuf dan melepaskan keganjalan hati saya.

  3. defitoblossom
    April 13, 2014

    Reblogged this on defitoblossom and commented:
    Analisis yang netral dan cerdas.. 😀

  4. Ruli Ismawati
    April 13, 2014

    Reblogged this on Ruli Ismawati.

  5. izzatyzone
    April 14, 2014

    seru mmg uda, ngeliatin data2 tiap tps di desa2 , saya paling dibuat kaget sm suaranya gerindra. woww naik nya keren banget, nyaris selalu dibwah pdip. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 10, 2014 by in Sosial dan Politik.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,204,292 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,320 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: