Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Mencoba Memahami Psikologis Koalisi Partai Politik


Network-Marketing-Teamwork

Sejak pemilu legislatif dilaksanakan pada 9 April 2014 lalu, pemberitaan di televisi seakan tak ada henti-hentinya menyiarkan tentang prospek koalisi partai politik peserta pemilu 2014. Semua aspek pun dibahas oleh media, dari kunjungan politik tokoh, dinamika di dalam partai, hingga pesan simbolik dari agenda pertemuan yang ada -seperti pakaian yang digunakan saat pertemuan-.

Wajar bila diskusi ini sangat menarik untuk dikupas, karena memang koalisi yang terbentuk akan menentukan bagaimana peta persaingan di pemilu presiden mendatang, lebih lanjut juga tentang kekuatan pemerintahan Indonesia untuk 2014-2019. Saya sendiri bukan pelaku politik praktis, sehingga saya hanya bisa memperhatikan gerak-gerik, kode, simbol, dan karakter koalisi yang pernah terbentuk dan prospek untuk dibentuk.

Setidaknya ada 3 isu yang ingin saya utarakan dalam kesempatan ini.

Pertama, kenapa partai Islam sulit bersatu?
Sejak pemilu kelar, pemberitaan yang ramai adalah tentang kemungkinan bersatunya partai Islam dan membuat koalisi secara mandiri. Hitungan quick count mengatakan, partai Islam mendapatkan 30-32% suara populer dari pemilu lalu. Jumlah ini lebih dari cukup untuk membentuk koalisi, baik di kabinet maupun di parlemen. Namun, apa daya, saya perhatikan, partai Islam tampak tidak ada tanda-tanda akan bergabung. PPP yang Ketua Umum nya merapat ke Gerindra, PKB yang memberikan sinyal positif ke PDI P, dan PAN serta PKS yang tampak masih melihat-melihat peta. Mereka seakan bergerak masing-masing tanpa ada niatan untuk bersama.

Saya menilai ada faktor historis yang tidak bisa dipisahkan. Saya melihat, ada friksi kecil (kalau tak boleh disebut besar), antara kelompok Parpol Islam Tradisional (PPP dan PKB) dan Islam moderat/modern (PAN dan PKS). perbedaan cara pandang ini membuat mereka mengedepankan metode dan hal-hal bersifat praksis ketimbang isu fundamental, seperti isu keutuhan umat. Sisi lain yang bermunculan adalah, karena masing-masing merasa memperjuangkan kebenaran, mereka merasa sesama partai Islam adalah saingan, jadi mereka cenderung enggan bekerjasama dan justru bekerjasama dengan partai yang punya latar belakang beda. Bisa jadi asumsi yang mereka gunakan adalah ‘partai saya adalah wajah Islam, buat apa kerjasama dengan yang berwajah Islam lagi, toh segmen-nya sama, mending kerjasama dengan partai nasionalis agar bisa lebarkan lingkup pengaruh’.

Menariknya, PKB melalui Ketua Umum nya Muhaimin Iskandar pernah mengatakan bahwa mereka ‘kapok’ bekerjasama dengan partai Islam karena pernah di gulingkan ketika tahun 2001.

Kedua, tentang kemana PKS akan merapat?
kenapa saya bahas PKS, karena saya melihat partai ini punya kecendrungan ‘bermanuver’ dalam koalisi-koalisi yang pernah terjalin. setidaknya ada 2 contoh, ketika 1999 PKS (saat itu PK) mengajukan Gus Dur sebagai Presiden bersama poros tengah, namun karena friksi dan konflik ini itu, PKS pula yang menjatuhkan Gus Dur di tahun 2001 melalui serangkaian manuver lapangan maupun media. Lalu ketika koalisi bersama SBY, entah sudah berapa kali, PKS melakukan manuver ketika memiliki cara pandang yang berbeda dengan koalisi SBY. Beberapa kali anggota koalisi lain mengusulkan untuk keluarkan PKS dari koalisi, namun karena ketidaktegasan SBY, maka PKS masih bertahan di koalisi hingga sekarang.

melihat faktor historis ini, saya kira, PKS kini tengah di ‘blacklist daftar koalisi’ oleh PKB dan Demokrat. Tambahan ‘blacklist’ juga kemungkinan datang dari PDI P yang kadernya (khususnya Jokowi) banyak diserang oleh pegiat PKS di social media. Singkat cerita, ada beberapa pihak yang sudah terlanjur kecewa dengan perilaku PKS yang tak bisa diatur/dipegang komitmen koalisinya.

Di satu sisi, terlihat secercah benih cinta dari PKS kepada Golkar dan Gerindra. untuk Golkar, menurut Denny JA dalam releasenya tahun lalu mengatakan bahwa koalisi Golkar dan PKS di Pilkada terbukti efektif untuk memenangkan pilkada dan juga langgeng ketika memimpin. PKS sendiri pernah ‘bermain mata’ dengan membuat iklan ‘Soeharto adalah Pahlawan’ di pemilu 2009. Dengan Gerindra, PKS seakan menemukan pasangan baru, Gerindra sendiri punya karakter pemilih yang serupa dengan PKS, yaitu generasi muda, urban, dan cerdas. Data juga mengindikasikan, terjadi pergeseran pemilih dari PKS ke Gerindra dengan berbagai alasan. Catatan di daerah juga menunjukkan koalisi Gerindra – PKS berhasil memenangkan Pilkada di Kota Bandung; ini juga meningkatkan spekulasi tentang kemungkinan arah PKS merapat. Tambahan untuk keduanya, berbagai media beberapa menduga pasangan Aburizal Bakrie – Anis Matta dan Prabowo – Ahmad Heryawan sebagai salah dua pasangan capres-cawapres yang potensial.

Meskipun, kalau kita lihat faktor sejarah, semestinya sih, kader PKS punya pengalaman pahit dengan Golkar dan Gerindra. Namun, bisa jadi memang kawan terbaik bisa jadi adalah musuh kamu di masa lalu.

Ketiga, kombinasi Nasionalis Kanan – Nasionalis Kiri – Islam.
Sebenarnya pola ini pernah di simbolkan ketika Orde Baru memimpin, dengan adanya penyederhanaan partai yang terdiri dari Golkar, PDIP, dan PPP. Bisa jadi memang, kombinasi tiga tipe partai ini akan menjadi koalisi yang cocok untuk membangun koalisi yang efektif. Setidaknya ada dua pertimbangan yang menguatkan, pertama adalah terkait sebaran segmen pemilih yang melingkupi semua tipe ideologi pemilih. kedua adalah terkait dengan kekayaan ide dan gagasan dalam membangun negeri. Terkait kiri – kanan, ini bukan tetant murni kapitalis – komunis, saya lebih suka istilah pro-pasar dan pro-kesejahteraan bersama; sebenarnya keduanya masih bisa di kompromikan.

Sejauh ini memang ada tanda-tanda satu koalisi dari pola ini terbentuk, yaitu PDIP – Nasdem dan PKB. Bila pola ini terjadi bisa jadi ini adalah model yang menarik untuk dicermati keberlangsungannya, koalisi lain yang mungkin terbentuk adalah Gerindra – Demokrat – PPP dan menyisakan 4 partai lain Golkar – PKS – PAN – Hanura. Tentu simulasi ini adalah prediksi dengan asumsi, perubahan sangat mungkin terjadi, karena tidak ada teori baku dalam konsep koalisi selain kepercayaan.

Terbentuknya sebuah koalisi jelang pilpres adalah keniscayaan, itu konsekuensi tak terelakkan dari sistem demokrasi kita. Koalisi yang baik akan terbangun bila anggota koalisi bisa mengedepankan semangat kebersamaan, kepercayaan, dan kepentingan rakyat. Yang jelas, buat saya mengamati dinamika pembentukan koalisi adalah sebuah pembelajaran yang menarik untuk memahami psikologi politik Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 14, 2014 by in Sosial dan Politik.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,210,290 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,320 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: