Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Nilai Global dari Pancasila


PANCASILA

Pagi ini, ketika berselancar di dunia maya, saya menemukan sebuah video tentang perbandingan pidato Soekarno, Prabowo, dan Jokowi dalam bahasa Inggris. saya tidak tertarik membahas tentang dua nama terakhir, namun saya ingin sedikit mengupas apa yang Soekarno sampaikan di video tersebut. Saat itu, Soekarno sedang pidato di depan Kongres Amerika Serikat pada tahun 1956.

Cuplikan video tersebut memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa memahami Pancasila lebih mendalam. Soekarno, ‘mensederhanakan’ kalimat – kalimat di pancasila menjadi kata-kata yang lebih bisa di mengerti oleh warga dunia. Soekarno mengatakan Sila Pertama adalah ‘believe in God’, Sila kedua dengan ‘Humanity’ , sila ketiga dengan ‘Nationalism’, sila keempat dengan ‘democracry’ dan sila kelima dengan ‘social justice’.

Saya menjadi teringat, dalam forum – forum internasional yang pernah saya hadiri, rasanya nilai humanity, democracy, nationalism, dan social justice ini selalu di elu-elukan, di bangga-banggakan oleh banyak warga dunia. Tak ketinggalkan, anak muda dari berbagai negara juga tak pernah henti meneriakkan democracy, humanity, dan social justice. Bahkan di kampus saya di Belanda ada program master di bidang social justice policy.

Saya kurang memahami, siapa ya terlebih dahulu menelurkan istilah-istilah ini, apakah bangsa barat? atauakah bangsa barat terinspirasi dari Soekarno dan justru menjadikan sebagai alat kampanye untuk membangun tata kelola pemerintahan dunia dengan jargon globalisasi.

Pancasila, bisa jadi buat sebagian warga Indonesia, 5 sila ini hanya sekedar ucapan yang perlu di katakan setiap upacara bendera. Di sisi lain, para guru pendidikan kewarganegaraan belum optimal berperan sebagai ‘pendoktin nilai – nilai negara’. Mereka lebih cenderung mengajarkan sesuatu yang normatif, tanpa memberikan pemaknaan mendalam tentang pancasila. Fenomena yang sama juga ditemui di pelajaran sejarah, yang kebanyakan mengajarkan tanggal penting, bukan pembelajaran di balik catatan sejarah yang ada.

Pancasila, sejatinya adalah nilai universal yang bisa menyatukan, menghubungkan warga negara Indonesia, dimana pun ia berada. dari latar belakang apapun yang ia miliki. Pancasila adalah hasil kompromi alot dari para negarawan yang telah memiliki investasi besar dalam mewujudkan kemerdekaan.

Dan ternyata memang benar, bila pancasila ini bisa dimaknai sebagai sebuah ‘alat komunikasi’ bernegara; saya kira, Indonesia akan menjadi negara yang memiliki nilai kemanusiaan yang luhur, menerapkan demokrasi dengan baik, memiliki hasrat nasionalisme yang mengusung negaranya ke puncak dunia, dan juga memiliki kepekaan sosial yang membuat sesama warga berlomba-lomba untuk berbagi. dan semua itu dikemas dalam sebuah konsep keTuhan-an yang matang.

Bahkan, bila Indonesia menjadikan nilai pancasila ini sebagai alat komunikasi di dunia global pun masih sangat relevan. karena, dunia saat ini juga menjadikan nilai-nilai yang tercantum diatas sebagai jargon untuk membuat dunia lebih beradab.

Pertanyaannya, bagaimana cara Indonesia mengelola nilai luhur pancasila sebagai panduan bernegara dan menjadi pemain penting di dunia?

Advertisements

One comment on “Nilai Global dari Pancasila

  1. ndramobile
    May 21, 2014

    Reblogged this on CommuniC Ndr@ and commented:
    Believe in God | Humanity | Nationalism | Democracy | Social justice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 21, 2014 by in Sosial dan Politik.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,210,290 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,320 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: