Menilik Strategi Partai Politik di Pilkada Serentak 2018


1

Atmosfer politik jelang Pilkada serentak 2018 kini telah mulai menghangat; Pilkada tahun depan di nilai akan lebih semarak ketimbang Pilkada serentak 2015 atau 2017 karena akan di ikuti oleh 171 daerah; termasuk 17 Provinsi di dalamnya. Ibarat sebuah turnamen, Pilkada 2018 ini adalah ‘semi-final’ jelang Pemilu Nasional 2019. Partai Politik tentu tidak ingin ketinggalan mengambil momen penting ini untuk mempersiapkan diri jelang ‘partai final’.

Dalam Pilkada serentak 2018; terdapat beberapa Provinsi yang akan menjalani Pilkada bersamaan dengan mayoritas Kota atau Kabupaten di dalamnya. Termasuk Jawa Barat (10 Kabupaten dan 6 Kota); Jawa Tengah (6 Kabupaten dan 1 Kota); Jawa Timur (13 Kabupaten dan 5 Kota); dan Sulawesi Selatan (9 Kabupaten dan 3 Kota). Pola pilkada semeriah ini tentu menjadi pengalaman baru bagi Partai Politik dalam mengelola koalisi dan suara. Dengan catatan tentunya, kekuatan Partai Politik berbeda di setiap daerah yang ada.

Partai Politik setidaknya akan memiliki 2 (dua) tujuan dalam Pilkada serentak 2018 ini, Pertama, memenangkan kadernya agar mampu mengelola daerah-daerah yang kemudian dimenangkan. Kedua, memanfaatkan kemenangan di Pilkada sebagai modal kampanye di Pemilu Nasional 2019.

Dalam menghadapi dinamika politik ini tentu Partai Politik akan menggunakan strategi yang tepat sesuai dengan potensi dan kapasitasnya. Penulis menilai setidaknya akan terdapat 3 (tiga) pola atau strategi kemenangan yang akan dipilih oleh Partai Politik.

Pertama, ‘merapat pada kandidat terkuat’. Dewasa ini, survey politik menjadi instrumen pengambilan keputusan dalam penentuan kandidat yang di dukung. 1 (satu) tahun jelang Pilkada, pada banyak daerah biasanya telah tampak daftar kandidat yang relatif kuat. Partai Politik dengan kursi terbatas dapat memanfaatkan kandidat terkuat ini untuk kemudian didukung secara dini. Dengan demikian, diharapkan Partai Politik dapat ‘mendomplang’ popularitas kandidat yang diharapkan berujung pada kemenangan kandidat dan meningkatnya suara Partai Politik tersebut di Pemilu Nasional.

Kedua, ‘menginisiasi koalisi semi-permanen’ pada tingkat Provinsi dan Kabupaten / Kota. Pola ini dapat dikembangkan untuk daerah yang Pilkada serentak-nya melibatkan tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota secara bersamaan. Koalisi semi-permanen dapat melibatkan lebih dari 1 (satu) Partai Politik yang memiliki kursi yang mencukupi untuk mencalonkan kandidat sendiri (khususnya di tingkat Provinsi). Kemudian koalisi ini diturunkan pula pada tingkat Kabupaten / Kota. Harapan dari pola ini adalah untuk mengkonsolidasikan kekuatan partai pada semua tingkat Pilkada, memudahkan distribusi sumber daya, mengurangi residu logistik, serta mengurangi konflik antar Partai Politik pada tingkat Kabupaten / Kota.

Ketiga, ‘menyiapkan kandidat sejak dini’. Untuk Partai Politik yang memiliki jumlah kursi yang cukup untuk memajukan kandidat sendiri, sebutlah PDIP di Provinsi Jawa Barat dan lainnya. Menyiapkan kader sejak dini untuk kemudian di deklarasikan dan di tingkatkan popularitas serta elektabilitasnya merupakan pilihan yang menarik. Masih cukup waktu untuk menaikkan atau menurunkan tingkat popularitas / elektabilitas kandidat hingga pertengahan tahun 2018 (waktu penyelenggaran Pilkada serentak 2018). Dengan strategi ini, Partai Politik yang dominan dapat menarik Partai Politik lainnya untuk membentuk koalisi menuju kemenangan.

Pilkada serentak 2018 ini akan menjadi eksperimen dan pengalaman politik yang menarik bagi Partai Politik dan juga Bangsa Indonesia. Apapun strategi yang diambil oleh Partai Politik, saya nilai akan menjadi strategi baru. Bagaimanapun hasil dari Pilkada serentak 2018 akan menjadi penentu hasil di Pemilu Nasional 2019. Di Pilkada serentak 2018 pula; kita akan menyaksikan apakah kekuatan Partai Politik akan tetap berada di atas kekuatan individu populis; ataukah situasi akan berubah sebaliknya. Bukan lagi kandidat mengikuti Partai, melainkan Partai mengikuti kandidat.

Menurut data INSTRAT, Partai Golkar dan Partai Nasdem merupakan partai dengan kemenangan terbanyak di Pilkada serentak 2017, dengan masing-masing 54 dan 47 kemenangan dari 100 Pilkada yang telah usai (belum termasuk Pilkada DKI Jakarta).

Tahun 2018 akan terdapat 171 Pilkada, siapakah yang akan mendapatkan kemenangan terbesar?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s