Jadilah Al-Amin

Kita semua mungkin sudah sangat akrab dengan sebutan “Al Amin ini, sebuah apresiasi tertinggi yang diberikan oleh masyarakat Mekkah kepada seorang yang sangat dipercaya integritas, pemikiran dan sikapnya. Nabi Muhammad Rasulullah, memulai perjuangan dakwahnya dengan panggilan mulia Al Amin ini, meski demikian bukan berarti kemudahan yang beliau terima ketika menyampaikan nilai Islam. Berbagai penolakan, bahkan penghinaan diberikan kepada Rasulullah.

Saya sering membahasakannya, “sudah menjadi Al Amin saja, penolakan masih terjadi, apalagi diri kita yang belum jadi seorang yang dipercaya di komunitas”. Mari sahabat, kita coba teladani keteladanan mulia Nabi Muhammad, bagaimana sifat Nabi Muhammad yang mencerminkan akhlak Al Quran juga mampu tercermin dalam aktifitas kita sehari-hari.

Sebagian dari cermin sifat Qur’an telah dipaparkan pada bagian kepribadian seorang Muslim, pada bagian ini kita akan lebih berfokus dalam upaya untuk menjadikan kepribadian yang ada sebagai bekal untuk membangun keteladanan sosial. Tujuan dari keteladanan sosial adalah untuk membangun kepercayaan diantara objek dakwah, agar mereka mau untuk belajar dari kita dan kita bisa menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cara sebaik-baiknya.

Sahabat semua, mari kita mulai dengan kehadiran diri. Apakah diri ini sudah hadir di komunitas tempat kita beraktivitas ?. Kehadiran diri ini bukan sekedar ada, tetapi juga di rindukan oleh sahabat-sahabat lainnya. Kehadiran diri ini diharapkan mampu memberikan sebuah penuansaan tersendiri bagi bagi komunitasnya. Mari kita sedikit berkaca pada diri, ketika kita tidak masuk kuliah satu-dua-atau tiga hari, apakah sahabat-sahabat kita menghubungi kita ? apakah mereka bertanya kemana diri kita dan kapan kita akan kembali ke komunitas ?

Bila kamu menjawab “iya” untuk pertanyaan ini, maka artinya sahabat telah memiliki “kehadiran diri” di komunitas tersebut, akan tetapi bila jawabannya “belum” , maka teruslah berada di komunitas tersebut dan meraih kepercayaan dari sahabat-sahabat yang lain.

Kehadiran diri ini tidak hanya tentang keberadaan fisik, perlu juga kebermanfaatan diri pada komunitas tersebut. Mulailah untuk berbagi dan berkorban untuk komunitas. Tunjukkan keseriusan diri untuk bermanfaat bagi komunitas, mulai lah terbuka terhadap sahabat yang lain dan juga jadilah pendengar yang baik bagi sesama.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangun kebermanfaatan diri, mulai saja dari apa yang kamu miliki?. Kamu bisa menulis, maka buatlah tulisan yang mendukung komunitas tersebut, kamu punya jejaring, maka berikanlah kepada komunitas itu, kamu bisa memimpin , maka tularkan gairah kepemimpinan kamu kepada mereka.

Dengan semangat bermanfaat inilah, seorang Muslim akan mendapatkan tempat tersendiri di hati sahabat-sahabat lainnya. Tidak hanya dengan sesama Muslim, tetapi juga untuk yang memiliki kepercayaan lain. Percayalah, Islam disiapkan untuk semua manusia, sehingga nilai kebaikan yang ada di Islam seharusnya bisa diterima oleh semua orang, tinggal bagaimana kita sebagai seorang Muslim menyampaikannya dengan cara terbaik.

Sikap positif yang kita tunjukkan kepada sahabat-sahabat di komunitas kita akan berbuah sebuah kepercayaan kepada diri kita. Pastikan bahwa kita konsisten menunjukkan sikap sebagaimana kepribadian seorang Muslim yang telah dipaparkan. Sikap positif ini akan di ikuti atau di teladani oleh sahabat-sahabat yang lain. Pastikan diri kita menjadi seorang yang penuh keteladanan, aktualisasikan juga potensi terbaikmu agar bermanfaat bagi sesama.

Prinsip seorang Al Amin, adalah memberi, berbagi dan bermanfaat. Keluarkan dan korbankan dulu, baru nanti kita akan mendapatkan kepercayaan dari publik. Kepercayaan akan keteladanan diri ini bukan untuk menjadikan diri sombong atau semena-mena, melainkan untuk digunakan sebagai kesempatan untuk berbagi nilai Islam dengan baik. Bangun kepercayaan dan sampaikan nilai Islam, Insya Allah akan semakin mudah untuk dicerna dan diterima oleh komunitas.

Jadilah Al Amin dan berdakwahlah dengan Lantang !

Posted in dakwah, dakwah kampus | Leave a comment

Kepribadian Seorang Muslim

Menjadi seorang Muslim yang memiliki kepribadian yang baik, penulis memulai bagian ini sebagai awal dari buku dengan harapan setiap kader dakwah dapat menikmati bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim yang utuh. Semangat dari buku ini adalah bagaimana seorang kader dakwah dapat menjadi agen Islam dimanapun dan kapanpun ia berada. Sehingga, kebutuhan untuk memiliki kepribadian seorang Muslim yang utuh menjadi sebuah kebutuhan.

Merujuk pada berbagai sumber, penulis mencoba mensistematikan kepribadian seorang Muslim dalam 10 karakter kepribadian. Harapannya, dengan menjalankan ke-10 karakter ini, seorang kader dakwah dapat semakin cakap sebagai teladan di komunitas tempat dirinya berdakwah.

Aqidah yang Bersih

Karakter yang paling penting dalam kepribadian seorang Muslim adalah Aqidah yang lurus dan bersih. Ia perlu memahami dan memiliki fondasi yang kokoh tentang aqidah Islam itu sendiri. Tantangan dakwah masa kini seringkali membuat seorang da’i terpeleset atau khilaf karena tidak di dukung oleh aqidah yang kuat. Untuk itu, sebagai seorang kader dakwah yang aktif, sangat dianjurkan untuk perbanyak membaca buku-buku Islam yang terkait dengan aqidah, landasan dasar berIslam, dan pemikiran Islam. Jangan sampai, seorang da’i tidak memilikinya, sehingga dakwahnya menjadi keropos karena tidak ditopang oleh pemahaman Islam yang kuat.

Ibadah yang Benar

Ibadah adalah instrument yang sangat penting dalam membangun kedekatan hati dengan Allah. Kualitas ibadah seorang da’i akan berdampak pada sejauh mana ia bisa ikhlas dan mempasrahkan dirinya dalam berjuang di jalan Allah. Ibadah dapat juga berperan sebagai media untuk mendapatkan energy Cinta dari Allah agar stamina dan ketahanan dakwah kita semakin baik. Allah menciptakan mekanisme Shalat Malam (tahajud) sebagai salah satu cara untuk membuat seorang da’i semakin dekat dengan-Nya, oleh karena itu, marilah kita jadikan waktu-waktu di sepertiga malam terakhir sebagai kesempatan untuk bermuhasabah dan menguatkan kedekatan jiwa dengan Allah.

Akhlak yang Kokoh

Akhlak seorang Muslim merupakan senjata utama untuk berdakwah, Rasulullah Muhammad juga dikenal sebagai seorang yang dipercaya oleh masyarakat Mekkah hingga beliau di juluki “Al-Amin”. Kerusakan akhlak seorang Muslim akan menjadi sebab dari rusaknya Islam itu sendiri. Apalagi bila seorang da’i tidak memiliki akhlak yang kokoh, tentu Islam akan sangat tercoreng dan objek dakwah akan menjauh dari Islam atau setidaknya komunitas dakwah kita di kampus karena tidak percaya. Perkuat akhlak yang baik diantara kader dakwah, tunjukkan bahwa seorang da’i adalah mereka yang memiliki tutur kata sopan, sikap memuliakan orang, jujur, bersahaja, dan diterima oleh semua orang.

Jasmani yang Sehat

Dalam sebuah Hadits yang di riwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Muhammad bersabda “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah”. Menjaga kesehatan jasmani memulai olahraga teratur dan mengkonsumsi makanan yang bergizi menjadi upaya-upaya yang bisa dilakukan. Membiasakan diri untuk hidup sehat dan memperhatikan kesehatan tubuh juga menjadi bagian tanggung jawab seorang Muslim. Jangan sampai seorang Muslim terlalu sibuk dengan aktivitasnya, sehingga melupakan hak tubuh. Ingat, bila sebuah pengorbanan dakwah bisa dilakukan dengan tetap menjaga kesehatan, lantas kenapa kita perlu sakit.

Berpikir Intelek

Seorang ulama pernah berkata, untuk menguasai peradaban, seorang da’i setidaknya menguasai beberapa ilmu, yakni Ilmu Agama, Ilmu Sejarah, Ilmu Bahasa, dan Ilmu Geografi. Keempat Ilmu ini perlu dimiliki oleh seorang da’i agar dirinya komprehensif. Ilmu Agama merepresentasikan pemahaman dan aqidah yang kokoh sebagai landasan dalam berpikir, da’i perlu juga menguasi ilmu fiqih dan syariah agar ketika berdakwah dan bermuamalah, ia selalu ditemani oleh nilai-nilai Islam. Ilmu sejarah merepresentasikan pemahaman akan kejadian masa lalu, seorang yang menguasai sejarah, akan mampu merekayasa masa depan dengan baik. Dari sejarahlah peradaban itu ada, bukan untuk terjebak dalam romantisme masa lalu,  melainkan untuk menguatkan rencana di masa akan datang. Ilmu Bahasa sangat dibutuhkan untuk ekspansi dan memperluas dakwah, sejak zaman Rasul, perluasan Islam telah berlangsung, dan bahasa menjadi salah satu alat penting. Di masa kini, setidaknya seorang Muslim menguasai bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan Bahasa Inggris. Lalu, ilmu geografi tidak hanya terkait peta dan spasial, melainkan juga terkait penguasaan terhadap potensi sumber daya alam, kependudukan, mobilitas, hingga perkembangan ekonomi.

Berjuang Melawan Hawa Nafsu

Hawa nafsu adalah ujian yang selalu menemani setiap Muslim, setan dan iblis selalu menjadikan hawa nafsu sebagai senjata untuk menjatuhkan aqidah seorang Muslim. Bentuk-bentuk ujian hawa nafsu ini pun berbeda-beda tergantung apa yang menjadi kelemahan seorang Muslim tersebut. Bila ia lemah dalam harta, maka kekayaan akan menjadi fintah nafsu baginya, bila ia lemah dengan jabatan, maka ambisi diri yang berlebihan akan menjadi ujian baginya. Untuk itu, kedekatan terhadap Allah dan usaha untuk menjaga keikhlasan diri akan menjadi benteng yang efektif untuk menjaga diri dari hawa nafsu.

Pandai Manajemen Waktu

Waktu yang 24 jam seharinya perlu di optimalkan dengan baik, jangan sampai waktu untuk berleha-leha lebih banyak daripada waktu produktif dirimu. Setiap manusia diberikan waktu yang sama oleh Allah, namun mengapa ada yang sukses dan ada yang gagal, meski kapasitas dan kesempatan yang dimiliki tidak begitu berbeda. Jawabannya adalah bagaimana seorang Muslim tersebut memanfaatkan waktu.

Teratur dalam Menata Urusan

Merencanakan diri dengan baik serta menjalankannya rencana yang ada dengan tegas merupakan bentuk dari usaha untuk menjadikan seorang Muslim produktif. Kita sudah terlalu banyak memiliki Muslim yang kurang bisa menata hidupnya sendiri, apalagi menata hidup orang lain. Seorang da’i harus selesai dengan urusan pribadinya baru bisa berdakwah kepada yang lain. Mulailah untuk bisa menata hidup dan penghidupan, agar dakwah bisa semakin fokus dan produktif.

Kemandirian / Kemapanan

Kemapanan financial juga merupakan sebuah kebutuhan tersendiri bagi seorang da’i, seorang ulama bahkan menganjurkan agar setiap Muslim itu kaya, berkelimpahan. Sederhana saja, kamu tidak mungkin bisa memikirkan orang lain, bila masih sibuk mengurus diri sendiri. Atau, apa yang bisa kamu infaq-kan untuk Allah dan umatnya bila kamu sendiri masih bersusah payah mencari kebutuhan pribadi. Siapkan diri dengan matang, agar kita memiliki kemandirian finansial sejak dini, agar dakwah  bisa terus bertambah besar kebermanfaatannya.

Bermanfaat

Memiliki keinginan untuk terus bermanfaat bagi sesama, itulah semangat yang perlu dimiliki oleh setiap da’i. Rasa ingin berbagi ilmu, harta dan kesempatan. Paradigm berbuat untuk bermanfaat, dan bagaimana selalu meningkatkan kapasitas diri agar senantiasa semakin luas kebermanfaatan dirinya bagi umat. Seorang da’i, dengan semangat ini diharapkan dapat semakin memiliki pengaruh yang lebih luas, keteladanan yang baik, sehingga nilai-nilai Islam dapat tersebar semakin besar.

Posted in dakwah, dakwah kampus | 1 Comment

Inspiratia Flava

Aku percaya pada musik seperti anak kecil yang percaya pada dongeng, musik ada dimana-mana yang perlu kita lakukan hanya mendengar dan percaya” -August Rush-

Saya pun juga percaya seperti anak kecil yang antusias mendengar legenda, inspirasi ada dimana-mana yang perlu kita lakukan hanya mendengar dan merasakan kehadirannya. Inspirasi itu bisa datang di saat sempit maupun lapang, kala berpikir maupun termenung, atau ketika sedang bersama sahabat-sahabat maupun sendiri.

Inspirasi itu tidak harus datang dari hal-hal yang besar. Terkadang, hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian orang-orang itulah yang biasanya menimbulkan pertanyaan, ide, inspirasi yang dapat membuat kita berbuat sesuatu. Setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam melihat setiap hal. Karena itu sumber inspirasi setiap orang pun berbeda-beda.

Saya selalu membayangkan bila ada sebuah lingkungan yang penuh dengan inspirasi, kemanapun mata melihat inspirasi selalu ada menanti, sejauh apapun langkah ditempuh inspirasi selalu saja menemani. Sungguh indahnya lingkungan tersebut bila benar adanya, dan akan lebih indah lagi bila inspirasi tersebut berasal dari kalimat Ilahi.

Dakwah Kampus yang telah bergulir lebih dari dua dekade belakangan ini memiliki tujuan mulia yaitu membentuk bi’ah Islamiyah atau lingkungan yang bernilaikan Islam di kampus. Saya sangat meyakini bahwa inspirasi Islam dapat diterima oleh setiap insan manusia, karena sudah sangat sesuai dengan fitrah manusia, pertanyaannya adalah bagaimana setiap da’I mampu menebar cita-rasa inspirasi Islam ini dengan baik.

Sebagai contoh sebuah masakan, Nasi Goreng, se-sedap apapun nasi goring, bila ia tidak disajikan dengan cara yang tepat, tentu cita rasanya akan berkurang atau bahkan hilang. Sahabat semua, tentu tidak pernah membayangkan kan memakan nasi goring di dalam batok kelapa ?.

Analogi  diatas adalah sebuah kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan bahwa menyampaikan inspirasi itu harus dengan “cara yang baik”. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW juga telah mencontohkannya ketika dulu berdakwah semasa hidupnya. Beliau menyiapkan setiap sahabat agar dapat berdakwah di komunitas tertentu, sesuai dengan kapasitas dan keahliannya masing.

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasul bersabda “seorang yang dekat dengan pedagang minyak wangi akan terkena harumnya, dan seorang yang berdekat dengan pandai besi akan terkena bau besinya”. Sebagai seorang muslim, kita tidak hanya dihimbau untuk mendekati seorang yang dipercaya atau bijak, lebih dari itu, sebagai seorang muslim kita dituntut untuk bisa menjadi seorang yang dipercaya dan bijak tersebut.

Seorang Da’I adalah inspirasi buat komunitasnya, ia adalah sumber ide dan gairah perubahan, ia pulalah yang menggerakan komunitas ke arah yang lebih baik. Ia ditantang untuk dapat memimpin  dan melayani komunitas tersebut, sehingga anggota di dalam komunitas dapat merasakan kehadirannya secara positif dan kehadiran nilai Islam dengan cara yang indah.

INSPIRATIA FLAVA, cita rasa inspirasi, tantangan bagi Da’I masa kini adalah bagaimana mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang terjadi dan menemukan sebuah formulasi dakwah yang paling tepat agar semakin banyak insan manusia yang tercerahkan dengan kebaikan yang ditebarkan oleh Islam.

Dua buah gagasan besar penuh cita rasa yang akan menjadi pendahuluan dari buku ini adalah optimasi dakwah komunitas dan dakwah berbasis web 2.0. Kedua gagasan ini akan memulai perjalanan cita rasa lain di buku ini. Kenapa dakwah komunitas dan dakwah berbasis web 2.0 menjadi sebuah cita rasa khusus ? sederhana saja prinsipnya, kedua cita rasa ini telah mengembalikan semangat dan hakekat seorang Da’I sebagai sebuah penyeru secara utuh. Penulis butuh sedikit meluruskan, bahwa dakwah di kampus bukanlah tentang rapat, menempel poster, atau mengikuti diklat saja, itu adalah sebuah kerja organisasi. Tetapi kita coba kembali ke hakekat Da’I, bagaimana agar setiap kader dakwah di kampus dapat menjadi agen dakwah yang berpengaruh. Ia berdakwah langsung dari dirinya baik secara lisan maupun tulisan dan dengannya mengisi ruang-ruang hati para mahasiswa lainnya dengan nilai-nilai Islam.

Dakwah Komunitas dan Dakwah berbasis web 2.0 akan menjadi ujian tersendiri bagi seorang Da’I. Kapasitas dirinya sebagai penyeru, pengajak kebaikan, dan teladan di uji melalui ruang public yang ada dan ruang maya yang bisa diciptakan. Bisakah seorang Da’I meningkatkan kapasitas pemahaman Islamnya dan menyeru kepada kebaikan dimanapun ia berada, ataukah bisa seorang Da’I rutin menyampaikan pesan kebaikan melalui jejaring dunia maya yang saat ini sangat mudah untuk diakses oleh siapapun.

  Continue reading

Posted in dakwah, dakwah kampus | 1 Comment

Ini Mimpiku Kawan (bagian ketiga-akhir)

… Ini Mimpi ku Kawan…

Sent       : Thursday, October 28. 4.01 PM

From     : Bunda Sayang

“ayah, makan malam di Rumah kan ? bunda masak gulai ijo dan telor balado kesukaan ayah.. ditunggu yaa ^^”

 

Replied

 

To           : Bunda Sayang

Sent       : Thursday, October 28. 4.10 PM

“iya bunda, ini udah mau pulang kok,, tunggu yaa.. sebentar lagi insya Allah ^^”

 

Sore ini begitu indah, langit memerah merona seakan tersipu malu di pandang insan manusia yang tertawa riang di Bumi Allah ini. Senja merah, aku begitu suka menikmati senja. Untukku berjalan santai dalam selimut senja adalah hal indah yang selalu dinanti. Langkah ini mengarah ke parkir motor khusus dosen.

 

“harus segera pulang, ditunggu istri” aku berkata kepada diriku.

 

Kawan, aku sangat bersemangat pulang sore ini, bukan karena hanya sekedar untuk melepas lelah di rumah. Tetapi buatku, berbagi cerita dengan Istri dan memandang wajah anakku adalah momen yang selalu ditunggu.  Setiap hari kami tak pernah habis akan cerita, tetapi untuk cerita sore ini, aku yakin Istriku akan lebih banyak bercerita, karena ia baru saja menghabiskan harinya di kampus dengan berbagai acara. Untukku, raut mukanya yang sangat sumringah dan bersemangat menceritakan detail kisahnya setiap hari adalah  kado terindah setiap harinya.

 

Aku pun melajukan sepeda ku ke arah rumah kami, rumah sederhana tetapi sangat estetis karena kami mendirikannya dengan sepenuh hati. Rumah kami memiliki teras kecil yang di isi dengan beberapa hiasan bambu, di sisi lainnya ada beberapa bunga ditanam salah satunya bunga lavender ungu yang menari setiap paginya. Aku memarkirkan sepeda ku di teras kecil tersebut, dan melangkahkan kaki ke pintu rumah yang di sisinya digantungkan sebuah pot cantik yang ditumbuhi dandelion yang sedang berbunga.

 

“assalamualaikum” aku mengucapkan salam sembari membuka pintu

“waalaikumsalam ayaah” jawab istriku sambil bergegas ke pintu rumah menyambut kepulanganku

“capek ya ayah sayang?” tanya istriku seraya membantu melepaskan dasi di kerah kemeja ku

“iya nih, padahal belum pekan UTS, nanti kalo udah pekan UTS bisa lebih sibuk lagi” jawab ku sambil membuka sepatu

 

“ayah mau makan kapan ? “

“nanti abis magrib aja ya bunda”

“okey, abis nasi nya juga baru di bikin… sayang, mau denger cerita bunda hari ini gakk?”

“iya sayang, ayah mau denger, sambil minum teh jepang yuk. Masih ada sisa kan yang waktu kita beli di osaka bulan lalu?”

“yuph, masih ada… kita minum di teras belakang rumah ya”

 

Kawan, rumah ku memiliki halaman belakang yang cukup luas. Kami sengaja menyiapkan halaman belakang yang lebih luas dan tertutup agar kelak kami sekeluarga dapat mengisi waktu luang yang ada. Di halaman belakang tersebut kami tanam beberapa pohon yang sudah besar dan digantungkan sebuah ayunan sederhana. Selain pohon dan ayunan terdapat juga beberapa bunga dan tumbuhan lain yang sengaja ditanamkan untuk memberikan keasrian di halaman belakang rumah.

 

“ayah, ini teh jepangnya”

“makasih ya bunda, gimana hari bunda ? menyenangkan kah?”

“iya ayah, bunda mau cerita… ayah mau denger gakkk?

“iya bunda… ayah mau denger” aku menjawab dengan penuh senyum

Continue reading

Posted in dakwah, dakwah kampus | 6 Comments

Dakwah Siyasi dan Perputaran Peradaban

Bagaimana dakwah siyasi berperan dalam membangun peradaban ?

Sebagaimana strategi dakwah yang dilakukan di Negara, baik di masa lalu dan kini, dakwah perlu dilakukan secara komprehensif (Syumuliyatul Dakwah). Ciri khas dari dakwah yang komprehensif adalah universal, integral dan partisipasi total. Universal terkait dengan Berbasis nilai-nilai Islam dengan konteks Kekinian dan Kedisinian.. Integral terkait dengan isu strategis dalam  Ekonomi, Sosial-Budaya; Masyarakat Madani (Politik)-Agriculture-driven Industrialization (Ekonomi)-Keteladanan dalam membangun budaya tinggi (Sosbud) serta penekanan pada tekad kuat untuk membangun institusi-institusi negara secara hakiki. Partisipasi Total terkait dengan melibatkan negara, pengusaha, masyarakat dan akademisi.

Untuk itu dalam dakwah siyasi perlu sebuah struktur dan proses konsolidasi Islam yang menjadi falsafah dasar perjuangan. Sejak awal masuk kampus, seorang kader siyasi perlu memahami bahwa dakwah siyasi adalah bagian dari peradaban, salah satu anak tangga dalam membangun peradaban. Sehingga diharapkan ruh dari dakwah siyasi ini tidak berakhir di kampus, melainkan juga pasca-kampus.

 

Dalam skema diatas, dapat dilihat, apa yang kita lakukan di dakwah siyasi meliputi semua aspek dalam skema konsolidasi Islam dan rekayasa menuju mengembalikan peradaban Islam itu sendiri. Siyasi dikampus akan meliputi bagaimana menekan kebijakan politik pemerintah, mendorong ekonomi masyarakat melalui gerakan entrepreneur, membangun gagasan kebudayaan dan pendidikan, lintas gender, memperbaiki tatantan sosial masyarakat, serta mengembangkan IPTEK untuk kesejahteraan. Semua program yang disusun di organisasi kemahasiswaan akan merujuk pada konsep membangun peradaban Islam. Bagaimana kita sebagai kader siyasi selalu menjadikan konsep peradaban Islam sebagai manifestasi atas jerih payah perjuangan dakwah siyasi yang dilakukan.

Continue reading

Posted in dakwah, dakwah kampus | 1 Comment

Sistem Kaderisasi Siyasi

Bagaimana sistem kaderisasi siyasi yang efektif dan mampu menghasilkan perubahan di kemahasiswaan ?

Sebagaimana sistem kaderisasi pada lembaga dakwah kampus, kader siyasi juga membutuhkan sebuah sistem kaderisasi yang berjenjang dan lebih mengutamakan kerja lapangan ketimbang materi belaka. Kenapa kerja lapangan lebih diutamakan? karena karakter perekayasa perubahan tidak akan terbentuk dengan materi di ruangan yang mengandalkan papan tulis dan infokus, mereka perlu dilatih dan dimatangkan seiring dengan perjuangan dakwah siyasi yang mereka tempuh.

Dalam menyusun kurikulum kaderisasi siyasi, saya akan merunutkan dulu bagaimana proses yang perlu dilakukan, atau skema berpikir yang perlu dimiliki oleh para perumus kaderisasi siyasi, proses tersebut dirangkum dalam bagan alir berikut ini ;

  1. 1.        Profil Kader Siyasi

Pada bagian sebelumnya telah diutarakan lebih detail mengenai profil kader siyasi yang diharapkan, setidaknya ada empat profil utama yang dituntut untuk ada pada diri kader siyasi, yakni;

  1. Pemahaman Akan Fiqh Siyasah
  2. Keteladanan Sosial
  3. Kapasitas Intrapersonal
  4. Dinamis dan Mampu Membaca Situasi

Jika boleh disederhanakan, maka setidaknya ada 2 profil utama kader siyasi, yaitu pemahaman agama dan dakwah yang kompeten, dan penguasaan rekayasa sosial yang dinamis. Keseluruhannya perlu dimiliki oleh kader siyasi agar ia mampu menjalankan amanah dakwahnya dengan baik dan bijak di lingkungan kemahasiswaan. Kita tentu sangat menghindari kondisi dimana seorang kader siyasi tidak menguasai keseluruhan aspek profil ini, karena akan berdampak sangat fatal dalam pengelolaan dakwah kampus kedepannya.

Continue reading

Posted in dakwah, dakwah kampus | Leave a comment

Ketika Dakwah di Lembagakan secara Formal

Bagaimana strategi adaptasi pola dakwah di lembaga kemahasiswaan yang efektif ?

Tantangan dakwah akan bertambah berat ketika lembaga kemahasiswaan seperti BEM atau Himpunan telah terkondisikan oleh para ADK. Mereka dituntut untuk mampu menjawab bagaimana dakwah dapat dilaksanakan pada sebuah lembaga formal yang mereka pimpin. Tentunya tidak sekedar memimpin seadanya saja, berbagai gebrakan perlu dilakukan agar massa kampus dapat merasakan perbedaan mendasar kondisi kampus ketika seorang aktivis dakwah yang memimpin dengan ketika kelompok lain.

Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-pertama sayang ingin mengajak sahabat semua untuk memiliki cara berpikir yang bijaksana ketika telah memimpin sebuah lembaga kemahasiswaan. Kita perlu meyakini bahwa memimpin lembaga kemahasiswaan bukan berarti kita akan mendominasi keseluruhannya dan mengubah BEM atau Himpunan tak ubahnya seperti sebuah Lembaga Dakwah Kampus. Cara pandang ini perlu diubah agar nantinya kepemimpinan kita dapat lebih bermanfaat untuk massa kampus.

Berbicara tentang mengformalkan dakwah dalam lembaga non-dakwah adalah sebuah tantangan tersendiri, disini kita tidak berbicara tentang koptasi lembaga, melainkan tentang menyentuh lembaga tersebut dengan nuans kebaikan. Sifat heterogenitas dari lembaga kemahasiswaan tersebut baiknya tetap dipertahankan agar tetap dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi kader dakwah.

Continue reading

Posted in dakwah, dakwah kampus | Leave a comment

#BKK = Bukan Kacamata Kuda

Dear All, tulisan ini adalah rangkuman dari hasil kuliah twitter saya tanggal 20 Januari 2012 dengan tema #BKK = bukan kacamata kuda. di dedikasikan khusus untuk adik-adik SMA yg tengah menyiapkan diri menuju perguruan tinggi. Bila ada adik kelas atau teman mu yg merasa membutuhkannya. Mohon di share ya sahabat :-)
Tema malam ini ttg tips sukses menyiapkan perguruan tinggi akan saya beri hash tag #BKK = bukan kacamata kuda.mulai sekitar pukul 8 malam

seorang siswa yg punya info ttg jurusan x di kampus y.hanya fokus pd pilihan tsb dr awal.tanpa adanya pertimbangan dan keterbukaan lain #BKK

kubiarkan kumengikuti suara dlm hati yg slalu membunyikan cinta kupercaya&kuyakini murninya nurani mjd penunjuk jalanku lentera jiwaku #BKK

apa sih mimpi besar mu sahabat ? menjadi orang yg bermanfaat kah ? atau hanya menjadi budak kapitalis yg terjebak di meja kerja ? #BKK

sahabat2 semua, sangat disayangkan bila mimpi kita hanya sekedar utk memberi makan diri dan keluarga saja. Dunia terlalu luas buat kamu #BKK

inilah konsep awal yg perlu sahabat semua matangkan sebelum berbicara kuliah dimana?jawab dulu, apa mimpi saya ?dan saya butuh kuliah ? #BKK

jgn sampai pilihan kamu nantinya hanya hasil manisfestasi ego dari informasi yg terbatas. tp, mari kita mulai langkah dr mimpi besar #BKK

ambil kertas karton kosong dan tempel2 dgn gambar2 dr majalah dan ditambah dgn lukisanmu. jadikan sebagai rujukan langkah kamu #BKK

tidak ada jaminan dgn kuliah kamu akan sukses. begitu juga sebaliknya. kamu akan sukses jika kamu sudah kuat dgn tekadmu #BKK

kamu ingin jadi pekerja di perusahaan minyak asing. kamu bisa membuka pilihan di jurusan mesin, perminyakan, tambang, geologi, dll #BKK

saya coba memberi analogi ini, agar sahabat2 semua bisa menjawab, “saya mau jadi apa ?” sudahkah jawaban itu ada di benak kamu sahabat? #BKK

ukirlah mimpi besar mu sahabat, tuangkan mimpi tsb dlm kata, gambar, atau bahkan dalam benak mu. ingat dan terus ulang mimpimu #BKK

“Biarkan… dia… menggantung… mengambang… 5 centimeter.. di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu.”..#BKK

kadang orang2 disekitar kamu justru menjadi alasan kamu mengkhianati mimpi kamu. dan taukah kawan ? rasanya sangat menyakitkan ! #BKK

jgn pedulikan “kata orang”,tentang “gak keren”,”prospek kerja kecil”,”gaji rendah”, hellooo , kita hidup cari kepuasan batin bukan uang #BKK

apalagi kalo kamu punya pacar dan pacar kamu menghalangi mimpi kamu. putusin aja. blm jadi pasangan sah kan ? mimpimu adalah energimu #BKK

kak, saya ingin jadi ahli astronomi. yah masuklah astronomi di ITB, ambil S2 di luar negeri dan jadilah pakar yg menghidupkan negeri #BKK

kak, saya ingin jadi ahli purbakala, ambil jurusan sejarah, ambil S2 arkeologi di luar negeri. kupas sejarah nusantara yg hebat ini #BKK

kamu yakin dengan mimpimu ? bersandarlah pada Tuhan, biarkan Ia yg menguatkan hatimu dan mencerahkan masa depanmu. #BKK

kadang ada org yg memandang rendah mimpimu, cuek aja sahabat. yang penting jiwa kamu berkembang krn kamu mengikuti lentera jiwamu #BKK

zaman ini bukan lagi think out of the box. tapi think there is no box ! . kotak itu cuma imajiner orang yg takut bermimpi ! #BKK

apakah kampus negeri lebih baik dr kampus swasta ? ga selalu bro. tim robot ITB aja blm bisa ngalahin tim robot UNIKOM. #BKK

kadang banyak pertimbangan dlm memilih kampus seperti jauh dr keluarga, biaya, adaptasi lingkungan baru dan lainnya. #BKK

ga selalu loh kampus swasta lebih mahal dr negeri.setau saya di UI kuliah udah selangit.bener ga sih?di ITB sekitar 4 jt satu semester #BKK

jangan lihat dulu prospek kerja. lihat minat dulu. kira2 kamu akan berkembang di lingkungan pendidikan seperti apa ? #BKK

ada bbrp tips nih : etos kerja-konsiten kerja-kerja keras .. semua ada kerja nya ya ? yaiyalah, hidupkan memang untuk bekerja #BKK

etos kerja berhubungan dgn sikap kamu dalam memandang perjuangan kamu. jgn pesimis, dan skeptis. coba tetap optimis yg realistis #BKK

etos kerja yg baik akan membuat kamu mudah dalam menjalankan perjuangan kamu. coba deh bikin mindset positif dalam hidup kamu #BKK

kerja keras dimanifestasikan dgn belajar dgn giat . kurangi waktu bermainmu dan juga pacaran tentunya. fokus pd tujuan masa depan kamu #BKK

belajar soal, aktif dikelas.rutin mengulang soal dan biasakan bangun lebih pagi kawan. bangun lebih pagi membuat harimu lebih bergairah #BKK

sahabat, maaf tadi malam batas tweets saya sudah memenuhi limit, saya akan coba lanjutkan sedikit ya yang ttg #JituMenyiapkan #BKK

Bangun pagi, ibadah pagi, belajar pagi, Insya Allah hasil positif dai perjuangan kamu akan tiba lebih pagi untukmu :-) #BKK

menjadikan diri kamu layak untuk menerima mimpimpu. konsep nya sangat sederhana sebetulnya.you get what you pay. #BKK

semangat ini lah yang perlu kamu bangun sahabat.. mimpibesar hanya untuk orang besar. orang besar adalah mereka yg bekerja dengan keras #BKK

kalau kamu merasa jadi mahasiswa UI itu mimpi kamu. jurusan Teknik jadi pilihanmu. maka siapkan diri tuk bersaing dgn mereka sejak dini #BKK

bersaing bukan dlm konteks negatif. tetapi dlm konteks memantaskan diri di Mata Tuhan, agar kamu layak untuk mendapatkannya. #BKK

Bila sahabat-sahabat merasa diskusi ttg #BKK bermanfaat. mohon keikhlasannya untuk menyebarkannya (RT) kepada followernya.

demikian saya akhiri diskusi ttg #BKK = bukan kacamata kuda. buka kacamata kuda mu sahabat. dan raihlah mimpi terbaik untukmu

kebaikan itu dari Tuhan, dan setiap manusia berhak untuk menerimanya. jadi jangan malas untuk berbagi kebaikan :-) #BKK

kamu tdk akan gagal masuk perguruan tinggi favorit kamu hanya dengan memberikan informasi mengenai tips sukses masuk PT. #BKK

di tweetkan oleh @udayusuf

Posted in serba aneka | Leave a comment

PEMBELAJARAN DEMOKRASI DALAM RELASI PATRON-KLIEN PARTAI POLITIK DI INDONESIA

Relasi Patron-Klien pada Partai Politik di Indonesia

Beberapa bulan terakhir ini media massa banyak memberitakan mengenai penetapan seorang pimpinan atau tokoh  partai politik sebagai calon Presiden di 2014. Melihat gejala ini, penulis mulai berpikir tentang “siapa yang akan memimpin Indonesia selanjutnya?”. Antusias partai politik juga tampak sangat bergairah menyusul tidak akan majunya kembali Presiden SBY di tahun 2014. Ini mengindikasikan bahwa siapapun yang mencalonkan diri tidak akan memiliki lawan yang “terlalu tangguh” seperti SBY. Setidaknya ini adalah berita baik buat partai politik selain Partai Demokrat. Partai politik mulai “mempersiapkan anggota masyarakat untuk mengisi jabatan-jabatan politik sesuai dengan mekanisme demokrasi (UU Partai Politik Pasal 7)”. Sebuah implementasi dari fungsi partai politik untuk mendorong demokrasi di negeri ini.

Tetapi, bila kita coba melihat struktur organisasi di Partai Politik di Indonesia serta bagaimana transformasi yang dijalani oleh mereka dalam dekade terakhir ini, maka saya menjadi bertanya kembali, benarkah partai politik menyiapkan anggota masyarakat untuk mengisi jabatan politik dan publik yang ada.

Ketika pemilu 1999 dan sebelumnya, Indonesia hanya mengenal adanya Ketua Umum partai politik sebagai jabatan tertinggi. Lalu saat pemilu 2004, Indonesia diperkenalkan dengan skema Dewan Pembina, Dewan Kehormatan, dan Majelis Syuro pada beberapa partai politik. Kini, kita bahkan mengenal Majelis Tinggi pada sebuah partai politik. Jabatan ini seakan-akan hanya untuk mengakomodasi tokoh sentral yang berada pada sebuah partai politik tersebut dan memastikan dirinya tetap menjadi pucuk pimpinan dari sebuah partai politik.

Konsep ini sama dengan apa yang dilakukan Lee Kwan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura yang menjadi Menteri Senior di era Goh Chok Tong dan kemudian diangkat menjadi Menteri Mentor ketika anaknya menjadi Perdana Menteri di Singapura. Pola ini seakan menegaskan bahwa Singapura adalah Lee Kwan Yew dan Lee Kwan Yew adalah Singapura.

Begitu pula dengan partai politik saat ini yang sangat kental dengan “identitas individual atau keluarga”. Sebutlah Partai Demokrat yang identik dengan keluarga Yudhoyono/Sarwo Edhie Wibowo, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang sangat melekat dengan keluarga “Soekarno”. Identitas Prabowo di Gerindra serta Wiranto di Hanura pun tak bisa begitu saja dilepaskan. Pada partai yang bertitel religius pun kondisi seperti ini terjadi, seperti Amien Rais di Partai Amanat Nasional, Abdurrahman Wahid di PKB, dan Himi Aminuddin/Anis Matta di PKS.

Dalam teori kepemimpinan Max Weber (1920), mengungkapkan tentang “kharismatic leadership”, konsep kepemimpinan tunggal yang mengakui seseorang memiliki kemampuan, daya pengaruh, ideologi serta kekuatan untuk mampu mengikat dan memastikan kelompok yang dipimpinnya selalu menjadikan dirinya sebagai rujukan dan pengambil keputusan terakhir dan tertinggi. Konsep kepemimpinan ini sangat cocok untuk kelompok yang berbasis kekeluargaan dan keagamaan. Seorang yang dinilai sebagai Charismatic Leader ini dinilai sebagai superhuman, ia adalah manusia terpilih yang memiliki kekuatan yang memang telah khusus diberikan untuk dirinya.

Continue reading

Posted in Opini, Sosial dan Politik | Tagged | Leave a comment

STRATEGI PENGUATAN INDUSTRI LOKAL : KLUSTER INDUSTRI KECIL MENENGAH

Oleh : Ridwansyah Yusuf Achmad

Seiring dengan globalisasi dan pasar bebas yang semakin terbuka lebar, pertumbuhan Industri di Indonesia pun juga semakin bertambah. Salah satu kawasan industri yang berkembang dengan pesat adalah kawasan industri di Bekasi-Cikarang yang juga merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Kini telah dibangun lebih dari 4000 Industri besar yang didominasi oleh perusahaan Asing. Amerika, Jepang, Cina dan Korea menjadi perusahaan-perusahaan yang paling banyak membangun pabrik di kawasan industri ini.
Dari 4000 industri yang ada, industri otomotif menjadi sektor industri yang paling banyak berproduksi di kawasan industri Bekasi-Cikarang. Sebutlah Toyota, Honda, Yamaha, Nissan, dan Suzuki, beberapa contoh label otomotif Asia timur yang produknya kini dapat kita lihat dengan sangat mudah di jalan raya. Data menunjukkan bahwa perusahaan sekelas Honda memproduksi satu sepeda motor dalam waktu 20 detik dan pada Oktober 2011, Honda telah menorehkan penjualan sebesar 415.071 unit sepeda motor hanya dalam waktu satu bulan.

Angka tersebut baru merupakan angka untuk kendaraan roda dua dari satu perusahaan saja, jumlah total keseluruhan produksi kendaraan atau produk otomotif dari kawasan industri di Bekasi-Cikarang tentu jauh lebih besar dari angka tersebut. Dengan data kasar tersebut kita bisa membuat sebuah hipotesa bahwa kehadiran perusahan asing ini akan berbuah pada lahirnya Industri kecil menengah baru yang didirikan oleh pengusaha lokal. Karena, untuk membuat sebuah sepeda motor saja, akan membutuhkan lebih dari 200 komponen yang bisa di sub-kontrakan kepada Industri Kecil-Menengah (IKM) yang bergerak di bidang machining, fabrikasi dan welding.

Namun, data menunjukkan lain, para perusahaan asing tersebut telah membawa perusahaan sub-kontrak dari negara asal mereka, dan melakukan kerjasama produksi dengan perusahaan tersebut. Ini artinya, mata rantai produksi yang terjadi merupakan mata rantai perusahaan asing (dari industri kecil-industri menengah-industri besar) yang di jalankan di Indonesia. Lalu, apa manfaat dari kehadiran perusahaan asing tersebut, maka jawabannya adalah “membuang limbah industri yang sebagian diantara bisa di daur ulang dan sebagian lain mencemarkan lingkungan”.

Keputusan para perusahaan asing ini menggunakan IKM dari negara asal mereka pun bukan tanpa alasan. Belum terjaminnya kualitas produksi Industri Kecil Menengah lokal menjadi alasan utama dan tidak bisa di kompromikan oleh perusahaan asing tersebut. Dengan dipergunakannya mekanisme produksi massal dalam mata rantai produksi otomotif, jaminan kualitas dalam setiap komponen menjadi sangat mutlak diperlukan. Kesalahan produksi akan berakibat fatal di jalan raya.

Industri asing menuntut setidaknya 5 hal kepada IKM lokal agar dapat terjalin kerjasama bisnis diantara keduanya, yakni ; (1) Kualitas , (2) Ketepatan Waktu Pengantaran, (3) Harga, (4) Keamanan, dan (5) Inovasi. Untuk memenuhi tuntutan ini bukan hal yang mudah bagi IKM lokal. Dengan pengelolaan yang masih belum menganut manajemen mut berstandar internasional, mereka sangat sulit untuk membuat ribuan komponen produksi tanpa ada cacat sekalipun. Industri asing menuntut hanya 2 kesalahan dari 1 juta produksi yang dilakukan. Ada sebuah anekdot diantara pengusaha IKM, “namanya IKM lokal ya, kalau bikin 1-2-3 masih bagus, tapi kalau sudah 100-1000-5000 sudah kedodoran”.
Keterbatasan ini bukan hanya sekedar dilatarbelakangi oleh keterbatasan modal saja, melainkan juga keterbatasan pengalaman serta wawasan mengenai quality control  dan manajemen mutu. Tidak semua pengusaha IKM juga berkeinginan untuk berinvestasi dalam bentuk pelatihan bagi teknisinya atau belajar untuk menerapkan standar internasional yang dituntut oleh Industri Besar, seperti salah satunya standar ISO.

Untuk itu diperlukan sebuah strategi agar para IKM ini memiliki pengetahuan dan pengalaman bagaimana memproduksi barang dengan baik. Mereka bukan hanya membutuhkan sekedar pelatihan, melainkan sebuah pendampingan jangka panjang dari seorang yang memang memahami nature produksi dari IKM pendukung industri ini.
Lahirnya ide kluster IKM sebagai salah satu alternatif strategi dalam memecahkan permasalahan kualitas dari para IKM lokal agar mereka lebih berdaya saing di masa mendatang. Meski memang preseden kegagalan menghantui pembangunan kluster IKM baru, dikarenakan beberapa kluster terdahulu yang telah dibangun kini hanya sekedar menjadi “perumahan” IKM saja tanpa adanya dinamisasi didalamnya.

Kluster IKM yang dapat dibangun bisa setidaknya harus memiliki konsep yang dinamis, artinya kluster bukan hanya sekedar aglomerasi IKM dalam satu area saja, melainkan perlu ada proses pendampingan dan pelatihan bagi para IKM, kluster dapat juga di topang oleh teaching factory yang berperan dalam mendistribusikan order dan menjamin kualitas produksi para IKM. Konsep Inti-Plasma dapat dikembangkan dalam pengembangan kluster model baru ini, yakni tempatkan 1-2 buah Industri Menengah yang sudah menerapkan standar mutu yang baik, dan biarkan industri menengah ini yang membuka jalur mata rantai ke Industri besar untuk nantinya di distribusikan produksinya ke industri kecil di dalam kluster.

Dengan keberadaan beberapa IKM dalam sebuah area, proses pemantauan, penjagaan mutu, serta jarak mata rantai akan lebih efektif, efesien dan handal. Selain itu beberapa standar internasional seperti ISO 14001 mengenai pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara kolektif bila para IKM berada di dalam sebuah kluster.

Kluster IKM dapat juga berperan sebagai wadah untuk mendidik tenaga kerja baru yang profesional dan bisa di andalkan. Bangun dan integrasikan lembaga pendidikan setingkat SMK atau Politeknik di dalam kluster tersebut, dan jadikan IKM yang berada di dalam kluster sebagai tempat untuk berlatih secara nyata dengan produksi yang dilakukan oleh IKM, sehingga proses transfer teknologi dan pengetahuan dari Industri ke Lembaga Pendidikan dan sebaliknya dapat terjalin.

Kini, beberapa negara asing seperti Cina telah memulai penjajakan untuk membuat kluster IKM khusus untuk IKM yang berasal dari negara asal mereka. Bila Indonesia tidak segera membuat sebuah kluster IKM, maka tinggal menunggu waktu hingga IKM Cina yang menguasai mata rantai produksi yang ada di Kawasan Industri Bekasi-Cikarang. Penguatan IKM lokal pendukung industri adalah salah satu strategi yang baik dalam mendorong daya saing industri nasional.

*penulis adalah seorang peneliti di Sekolah Arsitek, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan. Institut Teknologi Bandung.

Posted in Sosial dan Politik, Urban an regional | 3 Comments

Kerjasama dalam Membangun Dakwah Siyasi (musyarokah)

Bagaimana pola kerjasama yang bisa dilakukan dalam dakwah siyasi di kampus ?

Dalam dakwah siyasi kampus, kita akan banyak menemui berbagai kesempatan dan tantangan dalam bekerjasama, kolaborasi dan berbagai bentuk simbiosis lainnya. Perlu diingat bahwa perubahan tidak akan terwujud hanya bila satu lembaga atau kelompok yang berjuang, diperlukan adanya harmonisasi gerak diantara berbagai potensi kebaikan yang ada dikampus. Dan kita sebagai kader siyasi juga perlu menyiapkan diri dalam sebuah era dakwah berbasis kerjasama, koalisi, kolaborasi atau sering dikenal dengan istilah musyarokah.

Bila kita melihat peta-sosial di kampus, maka kita harus jujur juga mengakui bahwa banyak sekali kelompok-kelompok pemikir, penggerak dan juga memiliki keinginan untuk menyebar nilainya. Sebutlah ada kelompok yang berlatar belakang pemikiran sosialis, liberal, Islam, atheis, dan dalam kelompok ini seringkali juga ada sub kelompok tertentu yang memiliki kekhasan masing-masing. Setiap kampus akan berbeda karakternya, dan tentu juga akan berdampak pada perbedaan dalam jumlah kelompok yang “bersaing” di kampus.

Seperti halnya perpolitikan di Indonesia, setiap kelompok ini tentu ingin “berkuasa”, dan dalam hukum politik maka tidak ada teman dan lawan, yang ada adalah kepentingan bersama. Kondisi seperti sangat wajar terjadi, dan memberikan kesempatan untuk beberapa kelompok bersinergi dalam upaya mewujudkan mimpi bersama. Tentu dalam sinergi ini akan ada negosiasi, kompromi hingga barter kepentingan. Dan –lagi-lagi- ini adalah proses yang terjadi, namun menurut hemat saya, sebagai bagian dari kelompok dakwah, saya sangat tidak menyarankan untuk terlalu pragmatis apalagi menjual “idealisme” demi kekuasaan.

Kerjasama yang dibangun dengan kelompok lain adalah dalam upaya mengembangkan dakwah itu sendiri. Artinya jangan sampai kita melakukan kerjasama hanya untuk kepentingan sesaat, perlu adanya sebuah perencanaan akan prospek dakwah yang dapat dilakukan dalam kerjasama yang dibangun. Sebutlah dengan bekerjasama dengan kelompok “kiri”, kita jadi bisa banyak mendapatkan masukan akan kajian mereka yang cenderung dekat dengan sosialis. Hal ini dapat menambah khazanah pemikiran kita. Lebih lanjut, bila ternyata pendekatan kita lebih baik, maka tentu terbuka kemungkinan agar kita bisa mendakwahi mereka dan nantinya dapat menjadi bagian dari barisan dakwah itu sendiri.

Continue reading

Posted in dakwah, dakwah kampus, Sosial dan Politik | 2 Comments

Memimpin, Melayani dan Mencintai

Bagaimanakah sifat atau karakter yang perlu kita miliki ketika dipercaya pada sebuah posisi tertentu ?

“Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnya, akan tetapi Anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya”, ini merupakan petikan motto hidup yang selalu saya gunakan. Bagi saya pemimpin tidak bisa terlepas dari melayani dan mencintai rakyatnya. Seorang pemimpin dunia pun dikenal dan dikenang positif oleh bangsanya bila ia mampu berkorban untuk rakyatnya. Sebutlah Nelson Mandela di Afrika Selatan atau Mahatma Gandhi di India. Mereka telah membuktikan kecintaan pada bangsanya dengan mewakafkan dirinya untuk perubahan, atas dedikasinya itulah mereka selalu di cintai oleh rakyatnya.

Menjadi Ketua, Kepala, atau Presiden tidak sekedar hanya untuk kepentingan pragmatis keberhasilan program kerja atau hanya sekedar mencapai tujuan taktis dari dakwah. Kita coba kembali ke hakekat kepemimpinan yang seringkali di lupakan oleh seorang kader dakwah. Saya pun harus tegas mengkritik seorang Presiden Mahasiswa yang masih berpikir konservatif dan sempit mengenai kepemimpinan di BEM. BEM bukanlah tempat bagi para kader dakwah untuk memindahkan LDK ke lembaga tersebut. Kita tidak mengisi kepemimpinan disana jika hanya untuk bedol desa kader dan melegetimasi gerakan kita dalam sebuah wadah formal yang terpercaya.

Sebagai seorang pemimpin yang arif dan bijak di sebuah lembaga kemahasiswaan kita perlu menunjukkan dan membuktikan bahwa kita adalah milik semua, bukan hanya milik kelompok geng mesjid saja. Kita di amanahkan untuk memimpin agar sebanyak mungkin mahasiswa di kampus kita terbangun potensi kebaikannya dan mereka bisa bergerak bersama kita untuk membangun rakyat. Kepemimpinan di BEM lahir untuk menjawab kebutuhan tersebut, dan kita sebagai kader siyasi perlu dapat terbuka, mengayomi serta mengkolaborasikan semua potensi yang ada tersebut.

Memimpin

Sebagai seorang pemimpin, kita perlu dengan benar memahami hakekat kepemimpina tersebut. Seorang pemimpin harus memiliki gagasan murni atas pemikiran dan idealismenya akan masa depan dari lembaga yang akan ia pimpin. Gagasan inilah menjadi modal bagi dirinya dalam memimpin dan menjadi landasan pemikiran dalam mengembangkan program. Gagasan ini adalah gagasan yang dibangun juga dengan mengambil aspirasi dari komunitas, artinya jangan sampai juga gagasan yang kita bawa bertentangan dengan nilai atau norma yang berlaku dalam komunitas tersebut.

Setelah gagasan itu terbangun, maka tanggung jawab pemimpin adalah untuk mengkomunikasikan gagasan tersebut kepada komunitas. Tentu bukan sekedar komunikasi dalam konteks menyampaikan atau menginformasikan saja.  Melainkan juga untuk meyakinkan komunitas kita agar mau berjuang bersama mewujudkan gagasan tersebut. Dalam proses ini bisa dikatakan terjadi kolaborasi mimpi, mimpi seorang pemimpin menjadi mimpi bersam seluruh anggota komunitas.

Sebagai soerang da’i, kader dakwah siyasi juga harus mampu membahasakan semua gagasan yang diangkat dalam bahasa yang dapat dicerna oleh komunitas. Hindari bahasa yang melangit sehingga gagasan kita hanya akan menjadi gagasan “tingkat dewa” yang tidak bisa dicerna dan diterjemahkan oleh anggota komunitas tersebut. Yakinkanlah dengan segala upaya yang ada agar mereka mau bergerak bersama kita.

Pada akhirnya gagasan dan komunikasi tiada artinya tanpa keteladanan. Seorang pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi anggotannya akan menjadi bukti bahwa dirinya mampu “menunjukkan jalan” bagi para pendukungnya. Seorang pemimpin kini tidak bisa bertahan tanpa adanya keteladanan sosial. Keteladan sosial ini akan mendorong kepercayaan, dan juga sebagai media pembuktian bahwa diri kita tidak hanya sekedar berbicara, akan tetapi sikap dan kebiasaan kita juga meyakinkan bahwa kita mampu mengembang amanah dan mimpi yang diberikan.

Melayani

Pemimpin itu harus melayani, bukan dilayani. Ia harus menjadi orang yang memberikan pelayanan kepada orang-orang yang memberikan kepercayaan kepadanya. Al-Quran mengilustrasikan hubungan antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpinnya sebagai satu sistem yang saling mempengaruhi. Sistem itu sendiri merupakan kumpulan komponen-komponen yang berada pada alur yang sama. Dalam al-Quran digambarkan bahwa seorang pemimpin yang baik diperuntukan bagi masyarakat yang baik pula. Pemimpin yang mampu mengayomi, membimbing dan bersama-sama dengan apa yang dipimpinnya memperbaiki keadaan adalah pemimpin yang diharapkan. Pemimpin yang selalu dinantikan kedatangannya, pemimpin yang selalu dirindukan pemikirannya dan sebuah kebijakan penentuan keputusan sikap untuk terus memberi yang terbaik akan apa yang ada disekitarnya. Seorang Pemimpin sejatinya adalah seorang “Pelayan”, seorang abdi masyarakat, yang rela berjuang dan berkorban tanpa melihat apa yang akan dia dapatkan dari apa yang dia kerjakan.

Seorang Pelayan akan melakukan yang terbaik kepada yang dilayaninya, dan sebuah dasar kuat akan kesadaran pengabdian diri pada sekitarnya. Kemampuan menjaga/mengontrol ke-ego an untuk kepuasan pribadi menjadi tantangan besar akan sebuah kepemimpinan. Pemimpin yang terlahir dari proses besar akan menghasilan karakter kepemimpinan yang kuat. Pemimpin yang ikhlas melakukan pengabdian, pemimpin yang rela berjuang tanpa pamrih, pemimpinku yang kuat berada di depan untuk melawan ketidakadilan.

Sebuah hikmah menarik dapat kita petik dari kepemimpinan Umar Bin Khathab,

Khalifah Umar  adalah sosok pemimpin yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Di antara ungkapan beliau yang terkenal adalah sayyidul qaumi khadimuhum (pemimpin kaum di antaranya diukur dari mutu pelayanannya). Bukan khadi’uhum (pandai menipu mereka). Bahkan, apabila ada salah seorang warganya yang mengeluhkan pola kepemimpinannya, beliau selalu bermuhasabah diri, hingga tidak bisa memejamkan mata semalam suntuk.

Kisah lainnya berkaitan dengan spirit service oriented (etos pelayanan) dari kisah Umar bin Khathab,

Suatu malam, sebagaimana agenda rutinnya untuk turba –turun kebawah– khalifah Islam kedua itu berjalan menyusuri setiap lorong-lorong kota Madinah. Beliau mendengar tangis seorang anak yang kelaparan, tapi ibunya tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Dia terpaksa memasak batu untuk menghibur anak-anaknya sekadar menghentikan tangisannya. Sebagai pemimpin kaum Muslim, hati Umar bin Khathab merasa amat terpukul karena ada warganya yang tidak memiliki persediaan makanan sehingga anaknya menangis karena kelaparan. Maka, khalifah bergegas pergi mengambil bahan makanan dan mengantarkannya sendiri kepada keluarga janda yang sedang menderita. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, khalifah dengan senang hati bertindak menjadi pelayan ummat (khadimul ummah) dalam arti sebenar-benarnya.

Mencintai

Pemimpin yang didambakan masyarakat adalah pemimpin yang “mencintai rakyat”. Seperti halnya dalam sebuah keluarga, seorang bapak (pemimpin) akan berjuang keras untuk membahagiakan dan meningkatkan martabat keluarganya dengan landasan cinta dan kasih sayang. Memimpin dengan Cinta. Karena pemimpin yang bisa mebahagiakann sekian banyak umat atau bahkan membuat mereka sengsara. Karena pemimpin adalah teladan, jika buruk maka buruklah muka umat ini. Dan jika baik, maka baiklah umat ini. Karenanya, Nabi SAW memberikan batasan yang mudah diingat tentang pemimpin yang baik dan buruk, “Sebaik-baik pemimpin adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin adalah mereka membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka melaknat kalian dan kalian melaknat mereka.”(HR. Muslim)

Pemimpin yang mencintai rakyatnya  adalah pemimpin yang menerapkan pola hidup sederhana; peduli nasib rakyatnya; memahami kebutuhan rakyatnya ; menyusun program dan kebijakan  yang berpihak kepada rakyat, sebab citranya akan senantiasa terjaga walaupun tanpa upacara pencitraan dirinya. Bukan pemimpin yang hanya peduli atas diri, keluarga, dan komunitasnya sehingga mendesain perundang-undangan dan peraturan yang berpihak kepada komunitas yang membesarkan namanya, dengan ambisi mempertahankan kekuasaan.

John C Maxwell dalam bukunya “Mengembangkan kepemimpinan di sekitar anda”, menuliskan ada 7 langkah yang bisa kita lakukan agar dapat menjadi pemimpin yang mencintai dan dicintai, yakni :

  1. Milikilah kasih yang sejati bagi para anggota kita
  2. Buatlah mereka yang bekerja dengan anda lebih sukses.
  3. Melihat dari sudut pandang anggota atau bawahan
  4. Kasihilah para anggota  atau bawahan lebih dari sekedar prosedur
  5. Lakukanlah untuk kelompok atau jangan lakukan sama sekali.
  6. Libatkan anggota dalam perjalanan anda.
  7. 7.                Berlakulah bijak pada anggota  yang berperangai sulit.

Pastinya tidak semua orang akan mengagumi dan mencintai anda, tapi belajar dan berusaha mencintai orang-orang yang anda pimpin, akan memberi anda fondasi kepemimpinan yang kokoh. selamat mempraktekkan, semoga anda bisa menikmati, hasil dari kepemimpinan yang anda bangun dan menjadi pemimpin yang dicintai. Jika anda telah merasa sebagai pemimpin yang dicintai, tingkatkanlah kembali dan jangan pernah puas untuk terus meningkatkan kapasitas diri dalam memimpin dengan mencintai.

Posted in dakwah, dakwah kampus | 6 Comments